June 30, 2012

Seribu Pesawat Part IV


Sorry, I'd be post it late. I had to correct some part inside this part :p
Here it is everyone, Part IV :)




()

            Aku membawa map berisi partitur-partitur ke studio musik. Sesuatu yang tak pernah diketahui orang lain adalah aku sering sekali ke studio musik setiap hari Jumat-Sabtu. Kurasa aku pernah bilang aku punya minat di musik, benar? Studio musik sekolah terbilang besar daripada standar yang ditetapkan.
            Namun, kudengar seseorang sedang memainkan drum. Oh, tidak, yang benar saja? Aku penasaran karena hanya ada tabuhan drum, tanpa alat musik lain. Kuduga hanay seorang diri.
            Wah, ini tambah parah. Ternyata drummer di dalam studio musik itu Dave. Saat aku hendak melangkah pergi aku mendengar rangkaian bunyi tergesa-gesa; suara drum berhenti-ketukan di jendela kaca studio.
            Dave membuka pintu lalu berkata. “Kalau kau mau masuk, masuk saja.”
            “Yang benar saja, Dave. Kau lagi memakainya.”
            “Aku hanya main drum, ‘kan? Kau juga lihat sendiri.” katanya. “Dan lagipula aku tahu kau membawa partitur.”
            Aku menekan map ke punggungku sejak beberapa detik lalu. Tak ingin dia tahu apapun dulu. Bahkan, aku ingin lari segera, meninggalkan Dave saking malu dan gelisahnya.
            “Kau tahu ruang di sebelah studio musik?” tanya Dave.
            “Yang isinya komputer?”
            Dave mengangguk. “Aku di sana hampir tiap hari, jadi aku dengar kau saat kau memainkan partitur itu di piano.”
            “Kau melihatku setiap aku di sini?” tanyaku yang entah bagaimana caranya sangat yakin mukaku memerah.
            “Aha, Nona Muka Merah, masuklah.”ajak Dave.
            “Baiklah,” jawabku. “Tapi, jangan bilang siapa-siapa, kalau aku sering ke studio musik?”
            Dave menarik kursi ke dekat piano lalu meraih gitar dari pojok ruangan. Dia memainkan sebuah lagu yang rasanya pernah kudengar. Oh, The Man Who Can’t Be Moved-nya The Script. Aku memilah beberapa lagu dan meletakkan partitur, memulai bagian intro sampai aku menyadari Dave menatapku. Dengan tatapan aneh. Maksudku, bukan tatapan seperti aku ini anak aneh, tapi tatapan yang berbeda seakan dia sedang mendalami arti lagu yang kumainkan.
            “Hei,” panggil Dave. “Orang-orang bilang bahwa lagu favorit seorang gadis memiliki cerita tersimpan di baliknya. Apa itu berlaku bagimu?”
            “Sebagian. Sebagian dari lagu favoritku memang memiliki cerita, tapi sebagian kusukai bukan karena cerita di baliknya.” jawabku masih menekan-nekan tuts.
            “Jadi, sebagian yang memiliki cerita itu apa saja?”
            Aku menghentikan permainan nada-nada piano di tengah chorus, lalu menatap Dave sembari tersenyum. “Aku yakin kau bakal mengantuk untuk mendengar keseluruhan.”
            Dave tertawa. “Sebanyak itukah?”
            “Memang.” balasku. “Bagaimana dengan kau?”
            “Aku ‘kan cowok, bukan cewek.”
            “Dave,”
            “Hahaha, oke. Kalau itu berlaku juga buat cowok aku nggak tahu pasti lagu favoritku apa. Serius, deh.”
            “Kau bahkan nggak pernah serius.” sindirku.
            “Mungkin Dera benar,” Dave menatap mataku dalam. Memberikanku jutaan pertanyaan dalam benakku. Meninggalkan milyaran tanda tanya dalam otakku.
            “Benar tentang apa?” aku akhirnya bicara setelah Dave terdiam agak lama.
            “Bahwa kau gadis yang berbeda. Gadis-gadis lain yang ada sepertinya sama, namun, dia benar bahwa kau sangat berbeda dari mereka.” Jelas Dave sembari memetik senar gitar, memainkan lagu yang menenangkan.
            Aku terkesiap.
            “Tapi, aku ingin kau bilang langsung padaku. Apa kau merasa berbeda? Karena aku tak yakin apa kau sendiri senang dengan dirimu, apalagi mendengar bahwa kau sebenarnya diliputi kewaspadaan, kekhawatiran akan mengulangi kesalahan yang sama.”
            Aku tak mampu berkata apapun. Ini bukan hanya masalah diriku. Ini juga tentang Dera yang memberitahukan Dave apa yang kutakutkan. Apa dia sengaja memberitahukan ini untuk alasan yang tak pernah bisa kupahami? Untuk membuat Dave memahamiku?   
            “Jane?” Dave mulai panik. “Bicara, dong.”
            “Errr…” aku menunduk ke bawah, melihat karpet abu-abu yang melapisi lantai ruangan.
            “Maaf, aku terlalu mencampuri urusanmu. Itu bahkan bukan hakku untuk bertanya tentang sudut pandangmu tentang dirimu sendiri.”
            “Kau tak perlu minta maaf,” tukasku. “Iya, aku memang menganggap diriku berbeda. Sangat, terlalu berbeda malah. Karena aku jelas memiliki masa-masa yang lebih buruk dibanding yang gadis lain pernah alami.”
            “Tapi, itu ‘kan bukan hakku, jadi aku tetap minta maaf.”
            “Kalau kau bersikeras pada suatu yang bukan kesalahanmu, aku memaafkanmu, Anak Aneh.” Aku tertawa pelan.
            Dave yang daritadi tersenyum menahan tawa pun melepaskan tawa. Setidaknya tidak sekeras yang pernah dia lakukan di perpustakaan. Karena jika itu terjadi, mungkin kami bakal diusir juga dari studio musik.
            Aku merasa bahwa aku sangat memercayai Dave. Aku merasa nyaman setiap aku dekat dengan Dave. Dia bisa membuatku kembali tertawa terhadapa apa yang dilakukannya. Dan yang terpenting, Dave memiliki satu hal yang tak pernah bisa kujelaskan. Satu hal. Seperti partikel. Namun, jika dikaitkan dengan cinta, apakah ini cinta?
            Aku sendiri tak yakin dengan perasaanku sendiri. Aku meragukan lubuk hatiku sendiri. Aku tak percaya dengan pikiranku sendiri. Hanya terhadap rasa ini. Aku tak pernah sebingung ini, segelisah ini. Aku tak pernah tak seyakin ini pada hatiku. Biasanya aku mengikuti suara hatiku, membiarkannya membimbingku, mengikutinya menapaki jejak berikutnya. Tapi, hati bekerja sama dengan cinta; sesuatu yang tak pernah kuyakin adanya. Namun, bagaimana dengan kini? Perasaanku bagaikan diombang-ambingkan karena aku tak tahu jelas apa aku telah jatuh cinta?
            Lagipula, aku tak lagi tahu rasanya jatuh cinta.
            Aku tak lagi paham rasanya mencintai dan dicintai.
            Aku tak lagi mengerti cinta.
            Aku tak lagi tahu arti cinta dalam hidup.
            Aku bahkan telah lupa cinta itu apa.

()

            Aku berjalan ke ambang pintu kelas, siap melempar tas ke bangku sebelah Dera, seperti yang kulakukan biasanya. Tiba-tiba aku teringat kejadian kemarin, dan bahwa aku akan menanyai Dera tentang hal itu.
            “Hei, J.” sapa Dera. “Lemparanmu lebih bagus kemarin.”
            Aku menjulurkan lidah sebelum tertawa kecil. “Hei, Deer.”
            Dera melempariku dengan penanya. “Sudah berapa kali kubilang jangan pangil aku ‘Deer’!”
            Aku tertawa. “Sudahlah, lebih penting ini. Kau cerita apa saja ke Dave?”
            “Kau dan Dave kemarin di studio musik berdua, ya? Mana duet Vulnerable-nya Secondhand Serenade lagi.”
            “JADI, KAU LIHAT!?” seruku.
            “Adam memasang kamera pengintai di ruangan itu sebelum Dave masuk, jadi, tadi aku sudah menonton semuanya!” Dera mengucapkannya dengan bangga kepadaku yang menepuk jidat.
            “Bagus, deh. Aku tak perlu cerita.” Kataku. “Tapi, jawab pertanyaan tadi, kau cerita apa saja ke Dave?”
            Dera menghela napas panjang. “Baik, ini tidak seburuk yang kau kira. Aku tak menceritakan detailnya, oke? Adam bilang bahwa Dave suka cewek misterius yang berbeda dari cewek lain, nah, Dave waktu itu di sebelahnya. Kugoda saja dia denganmu, kubilang kau punya cerita-cerita yang tertutup, kepribadian yang susah dianalisa, dan kau sangat berbeda dengan gadis lain di muka bumi ini.”
            “Sarkatisme.” Komentarku.
            “Jadi, kau malah suka sama dia?”
            Aku percaya mukaku memerah lagi. “Hah? Apa? Tentu saja tidak!”
            “Mukamu memerah, Jane! Itu artinya kau menutupi realita!” tukas Dera.
            “Ah, tidak. Bukan begitu­­
            “Ikut aku ke tempat biasa, deh.” potong Dera yang sigap menarik lenganku ke taman sekolah.
            Dera tampak antusias mengetahui hal ini. Berkali-kali dia memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh tapi aku hanya menjawab, “Nggak tahu.”
            “Jane,”
            “Apa?”
            “Jujur padaku,” kata Dera pelan. “Apa kau menyukainya?”
            “Dave?” tebakku. “Kalau iya, aku tak yakin. AKu tak tahu perasaanku ini mengarah kemana.”
            “Ya, tentu saja kau suka! Dari semua cowok yang pernah ada dalam hidupmu, Dave adalah satu-satunya yang merasa membuatmu baik meskipun berbeda dan tidak membandingkanmu ke gadis yang lebih sempurna, ‘kan?”
            “Dera, aku tak yakin dengan hatiku sendiri. AKu bahkan tak tahu apa yang tersimpan untuk Dave,”
            “Adam bilang bahwa Dave mengagumimu.” katanya. “Kau jelas-jelas memukau baginya, Jane. Sejak awal kau memang memukau, mempesona, namun kau tak menunjukkannya, kau berusaha agar dirimu tak terlihat seperti kabut di siang hari yang terik, lebih seperti tak mungkin ada. Tapi inilah kau, Janette Aishling.”
            Dera menatapku cukup lama. Berusaha untuk membuatku yakin bahwa inilah secercah harapan yang kutunggu. Berusaha menyadarkanku bahwa mungkin aku harus kembali memercayai cinta.
            “Aku.. Aku tidak tahu, Dera.”
            “Percayalah, J. Aku ingin yang terbaik untuk sahabatku sendiri. Aku ingin kau mulai memercayai cinta, karena kau sudah terlalu lama tenggelam dalam keraguan akan adanya cinta. Mungkin, inilah takdirmu, J. Dave mungkin hadir untuk merubah persepsimu akan cinta, membuatmu percaya.”
            “Entahlah, Ra.”
            “Lihat aku, Jane.” kata Dera. “Kau tahu aku pernah sakit hati, tapi aku percaya cinta akan menemukanku, mengembalikanku pada hal yang kuimpikan, dan kau tahu aku benar. Kau harus mulai percaya.”
            “Ada masalah lain, Ra. Bukan masalah percaya pada cinta atau yakin pada perasaanku.”
            “Kau takut Dave akan menyakitimu?”
            Aku menggeleng perlahan. Bukan itu, tentu.
            Dera menyibakkan rambut cokelatnya, “Lalu apa?”
            Aku bergeming sesaat. “Aku sendiri… Aku…”
            “Ya?”
            “Aku sendiri telah lupa apa itu cinta.” kataku pahit. “Jadi, bagimana aku memercayai sesuatu yang tak kutahu itu apa?”

()


About the next part, I won't promise anything but I'll post it soon if it has finish, deal? :D
Comment it here or on my Twitter please?

1 comment:

  1. NADIAAAKUUUUUU {{}} Akhirnya part yang kutunggu-tunggu di-publish juga, ahai~ And do you know something, you have a great sense of writing love story, you're professional in it :) Keep writing, and make your own little world brighter :)

    ReplyDelete