Sorry, I'd be post it late. I had to correct some part inside this part :p
Here it is everyone, Part IV :)
()
Aku
membawa map berisi partitur-partitur ke studio musik. Sesuatu yang tak pernah
diketahui orang lain adalah aku sering sekali ke studio musik setiap hari
Jumat-Sabtu. Kurasa aku pernah bilang aku punya minat di musik, benar? Studio
musik sekolah terbilang besar daripada standar yang ditetapkan.
Namun,
kudengar seseorang sedang memainkan drum. Oh, tidak, yang benar saja? Aku
penasaran karena hanya ada tabuhan drum, tanpa alat musik lain. Kuduga hanay
seorang diri.
Wah, ini
tambah parah. Ternyata drummer di
dalam studio musik itu Dave. Saat aku hendak melangkah pergi aku mendengar
rangkaian bunyi tergesa-gesa; suara drum berhenti-ketukan di jendela kaca
studio.
Dave
membuka pintu lalu berkata. “Kalau kau mau masuk, masuk saja.”
“Yang
benar saja, Dave. Kau lagi memakainya.”
“Aku
hanya main drum, ‘kan? Kau juga lihat sendiri.” katanya. “Dan lagipula aku tahu
kau membawa partitur.”
Aku
menekan map ke punggungku sejak beberapa detik lalu. Tak ingin dia tahu apapun
dulu. Bahkan, aku ingin lari segera, meninggalkan Dave saking malu dan
gelisahnya.
“Kau tahu
ruang di sebelah studio musik?” tanya Dave.
“Yang
isinya komputer?”
Dave
mengangguk. “Aku di sana hampir tiap hari, jadi aku dengar kau saat kau
memainkan partitur itu di piano.”
“Kau
melihatku setiap aku di sini?” tanyaku yang entah bagaimana caranya sangat
yakin mukaku memerah.
“Aha,
Nona Muka Merah, masuklah.”ajak Dave.
“Baiklah,”
jawabku. “Tapi, jangan bilang siapa-siapa, kalau aku sering ke studio musik?”
Dave
menarik kursi ke dekat piano lalu meraih gitar dari pojok ruangan. Dia
memainkan sebuah lagu yang rasanya pernah kudengar. Oh, The Man Who Can’t Be
Moved-nya The Script. Aku memilah beberapa lagu dan meletakkan partitur,
memulai bagian intro sampai aku menyadari Dave menatapku. Dengan tatapan aneh.
Maksudku, bukan tatapan seperti aku ini anak aneh, tapi tatapan yang berbeda
seakan dia sedang mendalami arti lagu yang kumainkan.
“Hei,”
panggil Dave. “Orang-orang bilang bahwa lagu favorit seorang gadis memiliki
cerita tersimpan di baliknya. Apa itu berlaku bagimu?”
“Sebagian.
Sebagian dari lagu favoritku memang memiliki cerita, tapi sebagian kusukai
bukan karena cerita di baliknya.” jawabku masih menekan-nekan tuts.
“Jadi,
sebagian yang memiliki cerita itu apa saja?”
Aku
menghentikan permainan nada-nada piano di tengah chorus, lalu menatap Dave sembari tersenyum. “Aku yakin kau bakal
mengantuk untuk mendengar keseluruhan.”
Dave
tertawa. “Sebanyak itukah?”
“Memang.”
balasku. “Bagaimana dengan kau?”
“Aku ‘kan
cowok, bukan cewek.”
“Dave,”
“Hahaha,
oke. Kalau itu berlaku juga buat cowok aku nggak tahu pasti lagu favoritku apa.
Serius, deh.”
“Kau
bahkan nggak pernah serius.” sindirku.
“Mungkin
Dera benar,” Dave menatap mataku dalam. Memberikanku jutaan pertanyaan dalam benakku.
Meninggalkan milyaran tanda tanya dalam otakku.
“Benar
tentang apa?” aku akhirnya bicara setelah Dave terdiam agak lama.
“Bahwa
kau gadis yang berbeda. Gadis-gadis lain yang ada sepertinya sama, namun, dia
benar bahwa kau sangat berbeda dari mereka.” Jelas Dave sembari memetik senar
gitar, memainkan lagu yang menenangkan.
Aku
terkesiap.
“Tapi,
aku ingin kau bilang langsung padaku. Apa kau merasa berbeda? Karena aku tak
yakin apa kau sendiri senang dengan dirimu, apalagi mendengar bahwa kau
sebenarnya diliputi kewaspadaan, kekhawatiran akan mengulangi kesalahan yang
sama.”
Aku tak
mampu berkata apapun. Ini bukan hanya masalah diriku. Ini juga tentang Dera yang memberitahukan Dave apa yang
kutakutkan. Apa dia sengaja memberitahukan ini untuk alasan yang tak pernah
bisa kupahami? Untuk membuat Dave memahamiku?
“Jane?”
Dave mulai panik. “Bicara, dong.”
“Errr…”
aku menunduk ke bawah, melihat karpet abu-abu yang melapisi lantai ruangan.
“Maaf,
aku terlalu mencampuri urusanmu. Itu bahkan bukan hakku untuk bertanya tentang
sudut pandangmu tentang dirimu sendiri.”
“Kau tak
perlu minta maaf,” tukasku. “Iya, aku memang menganggap diriku berbeda. Sangat,
terlalu berbeda malah. Karena aku jelas memiliki masa-masa yang lebih buruk
dibanding yang gadis lain pernah alami.”
“Tapi,
itu ‘kan bukan hakku, jadi aku tetap minta maaf.”
“Kalau
kau bersikeras pada suatu yang bukan kesalahanmu, aku memaafkanmu, Anak Aneh.” Aku
tertawa pelan.
Dave yang
daritadi tersenyum menahan tawa pun melepaskan tawa. Setidaknya tidak sekeras
yang pernah dia lakukan di perpustakaan. Karena jika itu terjadi, mungkin kami
bakal diusir juga dari studio musik.
Aku
merasa bahwa aku sangat memercayai Dave. Aku merasa nyaman setiap aku dekat dengan
Dave. Dia bisa membuatku kembali tertawa terhadapa apa yang dilakukannya. Dan
yang terpenting, Dave memiliki satu hal yang tak pernah bisa kujelaskan. Satu
hal. Seperti partikel. Namun, jika dikaitkan dengan cinta, apakah ini cinta?
Aku
sendiri tak yakin dengan perasaanku sendiri. Aku meragukan lubuk hatiku sendiri.
Aku tak percaya dengan pikiranku sendiri. Hanya terhadap rasa ini. Aku tak
pernah sebingung ini, segelisah ini. Aku tak pernah tak seyakin ini pada
hatiku. Biasanya aku mengikuti suara hatiku, membiarkannya membimbingku, mengikutinya
menapaki jejak berikutnya. Tapi, hati bekerja sama dengan cinta; sesuatu yang
tak pernah kuyakin adanya. Namun, bagaimana dengan kini? Perasaanku bagaikan
diombang-ambingkan karena aku tak tahu jelas apa aku telah jatuh cinta?
Lagipula,
aku tak lagi tahu rasanya jatuh cinta.
Aku tak
lagi paham rasanya mencintai dan dicintai.
Aku tak
lagi mengerti cinta.
Aku tak
lagi tahu arti cinta dalam hidup.
Aku
bahkan telah lupa cinta itu apa.
()
Aku
berjalan ke ambang pintu kelas, siap melempar tas ke bangku sebelah Dera,
seperti yang kulakukan biasanya. Tiba-tiba aku teringat kejadian kemarin, dan
bahwa aku akan menanyai Dera tentang hal itu.
“Hei, J.”
sapa Dera. “Lemparanmu lebih bagus kemarin.”
Aku
menjulurkan lidah sebelum tertawa kecil. “Hei, Deer.”
Dera
melempariku dengan penanya. “Sudah berapa kali kubilang jangan pangil aku ‘Deer’!”
Aku
tertawa. “Sudahlah, lebih penting ini. Kau cerita apa saja ke Dave?”
“Kau dan
Dave kemarin di studio musik berdua, ya? Mana duet Vulnerable-nya Secondhand
Serenade lagi.”
“JADI,
KAU LIHAT!?” seruku.
“Adam
memasang kamera pengintai di ruangan itu sebelum Dave masuk, jadi, tadi aku
sudah menonton semuanya!” Dera mengucapkannya dengan bangga kepadaku yang
menepuk jidat.
“Bagus,
deh. Aku tak perlu cerita.” Kataku. “Tapi, jawab pertanyaan tadi, kau cerita
apa saja ke Dave?”
Dera
menghela napas panjang. “Baik, ini tidak seburuk yang kau kira. Aku tak
menceritakan detailnya, oke? Adam bilang bahwa Dave suka cewek misterius yang
berbeda dari cewek lain, nah, Dave waktu itu di sebelahnya. Kugoda saja dia
denganmu, kubilang kau punya cerita-cerita yang tertutup, kepribadian yang
susah dianalisa, dan kau sangat berbeda dengan gadis lain di muka bumi ini.”
“Sarkatisme.”
Komentarku.
“Jadi,
kau malah suka sama dia?”
Aku
percaya mukaku memerah lagi. “Hah? Apa? Tentu saja tidak!”
“Mukamu
memerah, Jane! Itu artinya kau menutupi realita!” tukas Dera.
“Ah,
tidak. Bukan begitu―”
“Ikut aku
ke tempat biasa, deh.” potong Dera yang sigap menarik lenganku ke taman
sekolah.
Dera
tampak antusias mengetahui hal ini. Berkali-kali dia memberondongku dengan
pertanyaan-pertanyaan aneh tapi aku hanya menjawab, “Nggak tahu.”
“Jane,”
“Apa?”
“Jujur
padaku,” kata Dera pelan. “Apa kau menyukainya?”
“Dave?”
tebakku. “Kalau iya, aku tak yakin. AKu tak tahu perasaanku ini mengarah
kemana.”
“Ya,
tentu saja kau suka! Dari semua cowok yang pernah ada dalam hidupmu, Dave
adalah satu-satunya yang merasa membuatmu baik meskipun berbeda dan tidak
membandingkanmu ke gadis yang lebih sempurna, ‘kan?”
“Dera,
aku tak yakin dengan hatiku sendiri. AKu bahkan tak tahu apa yang tersimpan
untuk Dave,”
“Adam
bilang bahwa Dave mengagumimu.” katanya. “Kau jelas-jelas memukau baginya,
Jane. Sejak awal kau memang memukau, mempesona, namun kau tak menunjukkannya,
kau berusaha agar dirimu tak terlihat seperti kabut di siang hari yang terik,
lebih seperti tak mungkin ada. Tapi inilah kau, Janette Aishling.”
Dera
menatapku cukup lama. Berusaha untuk membuatku yakin bahwa inilah secercah
harapan yang kutunggu. Berusaha menyadarkanku bahwa mungkin aku harus kembali
memercayai cinta.
“Aku..
Aku tidak tahu, Dera.”
“Percayalah,
J. Aku ingin yang terbaik untuk sahabatku sendiri. Aku ingin kau mulai
memercayai cinta, karena kau sudah terlalu lama tenggelam dalam keraguan akan
adanya cinta. Mungkin, inilah takdirmu, J. Dave mungkin hadir untuk merubah
persepsimu akan cinta, membuatmu percaya.”
“Entahlah,
Ra.”
“Lihat
aku, Jane.” kata Dera. “Kau tahu aku pernah sakit hati, tapi aku percaya cinta
akan menemukanku, mengembalikanku pada hal yang kuimpikan, dan kau tahu aku
benar. Kau harus mulai percaya.”
“Ada
masalah lain, Ra. Bukan masalah percaya pada cinta atau yakin pada perasaanku.”
“Kau
takut Dave akan menyakitimu?”
Aku
menggeleng perlahan. Bukan itu, tentu.
Dera
menyibakkan rambut cokelatnya, “Lalu apa?”
Aku
bergeming sesaat. “Aku sendiri… Aku…”
“Ya?”
“Aku
sendiri telah lupa apa itu cinta.” kataku pahit. “Jadi, bagimana aku memercayai
sesuatu yang tak kutahu itu apa?”
()
About the next part, I won't promise anything but I'll post it soon if it has finish, deal? :D
Comment it here or on my Twitter please?
NADIAAAKUUUUUU {{}} Akhirnya part yang kutunggu-tunggu di-publish juga, ahai~ And do you know something, you have a great sense of writing love story, you're professional in it :) Keep writing, and make your own little world brighter :)
ReplyDelete