June 29, 2012

Seribu Pesawat Part III


()
            Aku tak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa percaya Dave maupun Adam takkan mengacau hidupku. Maksudku, menjahiliku tidak termasuk hitungan. Tuh, aku baik hati.
            Sejak kejadian di perpustakaan aku seakan menemukan sebuah titik harapan baru. Seperti sebuah permata yang terlalu lama terpendam dalam, lalu kutemukan, dan berkilau ditimpa sinar mentari. Dan rasanya seperti kau menemukan hidupmu lagi, tanpa kewaspadaan berlebihan seperti yang selalu kulakukan. Setidaknya, selama ini Dera benar tentang Dave dan Adam. Mereka nggak seburuk yang kukira, bahkan lebih baik daripada yang kuharapkan.
            “Kau ngapain, sih?”
            Aku melihat Adam yang member tatapan aneh, dan aku baru sadar bahwa aku melamun cukup lama. Dan dari cara Dave menertawaiku pelan, aku tahu aku telah menunjukkan ekspresi aneh.
            “Ah, nggak. Kau bakal tertawa semakin keras jika aku memberitahumu,” jawabku.
            “Setidaknya mereka tidak berbahaya, ‘kan?” sindir Dera.
            “Tidak, kalau mereka lagi jahil. Mereka berdua bakal jadi tim super bahaya buat kita.” Responku.
            Dave masih meminum Coca-Cola-nya, lalu berdehem. “Oh, ya, Guru Privat. Lusa aku ujian Matematika, nih. Ajari lagi dong,”
            Sedetik kemudian seluruh orang di kantin melihat kea rah meja kami. Mereka bertiga menertawaiku yang memberi Dave tatapan kau-beneran-menganggapku-gurumu-apa. Mau tak mau, aku ikut tertawa juga.
            “Bisa, asal kau membantuku masalah teater,” usulku. “Setuju?”
            “Deal.” Jawab Dave.
            “Sekalian saja beri dia peran, Jane!” seru Adam.
()
            Aku sedang duduk di taman dekat rumah ketika semua hal di masa lalu berkelebat samar di ingatanku. Kegelapan mulai menyelimuti, malam datang. Senja sudah lewat puluhan menit lalu, menyisakan sedikit terang di langit. Membuktikan bahwa cahaya tak sepenuhnya hilang.
            Setelah beberapa hari aku mengenal Dave, memang ada yang berbeda darinya. Aku tak perlu mewaspadainya seperti aku mencurigai orang-orang yang kupikir akan membuatku mengulangi kesalahan. Aku tak melihat Dave dalam posisi itu. Jujur, aku tak pernah tahu kenapa. Sejak masa laluku mengabur dalam pikiran atau aku yang sengaja mengaburkannya, aku tak pernah sepercaya ini pada siapapun selain keluargaku, Dera, dan Kayla. Hanya mereka.
            Aku bahkan belum memberitahu Dera tentang masalah ini. Oke. Mungkin bukan masalah sebesar yang pernah ada dalam hidupku, tapi tetap saja masalah ini jelas mengusikku.Aku tahu aku takkan bisa menutupi hal ini lama-lama dari Dera, dia terlalu mengenalku. Dan aku pun harusnya tahu, tak lama lagi entah aku memberitahunya atau tidak dia akan mengetahui ini.
            Kuputuskan untuk berhenti memikirkan ini, tapi, aku tak bisa menghilangkan apapun yang berhubungan dengannya. Aku masih di taman, mulai membereskan isi tasku, memasukkan buku dan naskah teater hasil koreksi Dave. Melangkah di pusat kota dari taman jam segini agak aneh, apalagi kau sendiri sedangkan orang lain memiliki kawan bicaranya. Aku tak peduli, aku memang sedang tidak ingin bicara. Apalagi di dalam pikiranku sedang terpikir topik sensitif. Bisa saja, ketika orang lain mengajakku bercerita dan giliranku bercerita aku malah hampir menceritakannya. Percayalah, hal itu pernah terjadi, dan percayalah aku beruntung aku sedang bicara dengan Dera, dan tentu saja dengan topik yang berbeda.
            “Hei,” sapa seseorang yang menepuk pelan bahuku.
            Aku menengok ke belakang, melihat seorang gadis yang sangat familiar sedang tersenyum padaku. Kayla.
            “Sedang apa kau di sini, Salju?” tanya Kayla.
            Salju. Aku tertawa dalam hati. Kayla selalu memanggilku salju, dengan alasan yang mungkin akan kalian bilang mustahil. Kayla memanggilku salju, karena aku terlihat menyenangkan dan tak punya masalah ataupun sesuatu untuk disembunyikan. Namun, ada kerapuhan yang berbahaya dalam salju, kerapuhan dalam keindahan. Dan misteri pola salju, sama dengan jutaan misteri dalam diriku.
            Aku tersenyum. “Hanya memikirkan beberapa hal.”
            “Taman nampaknya selalu jadi tempat nongkrongmu, ya?” balas Kayla.
            “Tak ada yang mau ke taman jam segini jika kau bukan pasangan yang dimabuk asmara. Tapi, nyatanya aku datang ke taman yang sepi, tuh.” kataku.
            “Memangnya semua tempat dikuasai oleh para pasangan? Kalau iya, aku bakal demo untuk menuntut hakku.”
            Kami tertawa di depan taman, menceritakan beberapa hal sehingga kami memutuskan masuk ke taman dan duduk karena terlalu banyak yang ingin kami bicarakan. Tentu saja.
            Kau nggak akan menemukan Kayla di sekolah. Dia beda sekolah denganku, salah satu sekolah internasional lain, yang lebih dekat dengan apartemennya. Kuakui, dia hebat. Tinggal di apartemen dengan kakak perempuannya sejak SD? Kayla bukanlah orang asli Indonesia. Kayla jelas terlihat sebagai keturunan Irlandia dnegan rambut pirang keemasan dan mata birunya. Orangtuanya bekerja di Swedia, dan satu pertanyaan yang pasti terbersit di benakmu.
            Bagaimana bisa Kayla ada di Indonesia jika dia keturunan Irlandia dan orangtuanya bekerja di Swedia?
            Bisa saja. Kayla besar di dalam keluarga bibinya. Awalnya mereka tinggal di Australia sampai tuntutan pekerjaan pula yang membuat keluarga bibinya terpaksa pindah ke Indonesia. Kayla memutuskan akan kembali ke Irlandia saat umurnya tujuh belas tahun, entah kenapa harus tujuh belas.
            Aku, Dera, dan Kayla bertemu saat olimpiade Matematika yang kuikuti saat kelas tujuh. Kami semakin sering berjumpa dan entah bagaimana waktu membawa kami ke dalam jalinan persahabatan. Dan aku mensyukurinya.
            Setidaknya aku punya dua bintang untuk bertumpu melawan masa lalu demi masa depanku maupun hari kini.
()



Sebenarnya, part ini cuma part selingan buat ngenalin karakter Kayla biar lebih gampang dan  karena part yang selanjutnya adalah twist buat semuanya. Seenggaknya, aku bakalan nge-post part IV nanti malam, yaaaay!
 

No comments:

Post a Comment