()
Aku tak
bisa menjelaskan bagaimana aku bisa percaya Dave maupun Adam takkan mengacau
hidupku. Maksudku, menjahiliku tidak termasuk hitungan. Tuh, aku baik hati.
Sejak
kejadian di perpustakaan aku seakan menemukan sebuah titik harapan baru.
Seperti sebuah permata yang terlalu lama terpendam dalam, lalu kutemukan, dan
berkilau ditimpa sinar mentari. Dan rasanya seperti kau menemukan hidupmu lagi,
tanpa kewaspadaan berlebihan seperti yang selalu kulakukan. Setidaknya, selama
ini Dera benar tentang Dave dan Adam. Mereka nggak seburuk yang kukira, bahkan
lebih baik daripada yang kuharapkan.
“Kau
ngapain, sih?”
Aku
melihat Adam yang member tatapan aneh, dan aku baru sadar bahwa aku melamun
cukup lama. Dan dari cara Dave menertawaiku pelan, aku tahu aku telah
menunjukkan ekspresi aneh.
“Ah,
nggak. Kau bakal tertawa semakin keras jika aku memberitahumu,” jawabku.
“Setidaknya
mereka tidak berbahaya, ‘kan?” sindir Dera.
“Tidak,
kalau mereka lagi jahil. Mereka berdua bakal jadi tim super bahaya buat kita.” Responku.
Dave
masih meminum Coca-Cola-nya, lalu berdehem. “Oh, ya, Guru Privat. Lusa aku
ujian Matematika, nih. Ajari lagi dong,”
Sedetik
kemudian seluruh orang di kantin melihat kea rah meja kami. Mereka bertiga
menertawaiku yang memberi Dave tatapan kau-beneran-menganggapku-gurumu-apa. Mau
tak mau, aku ikut tertawa juga.
“Bisa,
asal kau membantuku masalah teater,” usulku. “Setuju?”
“Deal.” Jawab
Dave.
“Sekalian
saja beri dia peran, Jane!” seru Adam.
()
Aku
sedang duduk di taman dekat rumah ketika semua hal di masa lalu berkelebat
samar di ingatanku. Kegelapan mulai menyelimuti, malam datang. Senja sudah
lewat puluhan menit lalu, menyisakan sedikit terang di langit. Membuktikan
bahwa cahaya tak sepenuhnya hilang.
Setelah
beberapa hari aku mengenal Dave, memang ada yang berbeda darinya. Aku tak perlu
mewaspadainya seperti aku mencurigai orang-orang yang kupikir akan membuatku
mengulangi kesalahan. Aku tak melihat Dave dalam posisi itu. Jujur, aku tak
pernah tahu kenapa. Sejak masa laluku mengabur dalam pikiran atau aku yang sengaja mengaburkannya, aku tak pernah sepercaya ini pada siapapun
selain keluargaku, Dera, dan Kayla. Hanya mereka.
Aku
bahkan belum memberitahu Dera tentang masalah ini. Oke. Mungkin bukan masalah
sebesar yang pernah ada dalam hidupku, tapi tetap saja masalah ini jelas mengusikku.Aku tahu aku takkan
bisa menutupi hal ini lama-lama dari Dera, dia terlalu mengenalku. Dan aku pun
harusnya tahu, tak lama lagi entah aku memberitahunya atau tidak dia akan
mengetahui ini.
Kuputuskan
untuk berhenti memikirkan ini, tapi, aku tak bisa menghilangkan apapun yang
berhubungan dengannya. Aku masih di taman, mulai membereskan isi tasku,
memasukkan buku dan naskah teater hasil koreksi Dave. Melangkah di pusat kota
dari taman jam segini agak aneh, apalagi kau sendiri sedangkan orang lain
memiliki kawan bicaranya. Aku tak peduli, aku memang sedang tidak ingin bicara.
Apalagi di dalam pikiranku sedang terpikir topik sensitif. Bisa saja, ketika
orang lain mengajakku bercerita dan giliranku bercerita aku malah hampir
menceritakannya. Percayalah, hal itu pernah terjadi, dan percayalah aku
beruntung aku sedang bicara dengan Dera, dan tentu saja dengan topik yang berbeda.
“Hei,”
sapa seseorang yang menepuk pelan bahuku.
Aku
menengok ke belakang, melihat seorang gadis yang sangat familiar sedang
tersenyum padaku. Kayla.
“Sedang
apa kau di sini, Salju?” tanya Kayla.
Salju. Aku
tertawa dalam hati. Kayla selalu memanggilku salju, dengan alasan yang mungkin
akan kalian bilang mustahil. Kayla memanggilku salju, karena aku terlihat
menyenangkan dan tak punya masalah ataupun sesuatu untuk disembunyikan. Namun, ada
kerapuhan yang berbahaya dalam salju, kerapuhan dalam keindahan. Dan misteri
pola salju, sama dengan jutaan misteri dalam diriku.
Aku
tersenyum. “Hanya memikirkan beberapa hal.”
“Taman
nampaknya selalu jadi tempat nongkrongmu, ya?” balas Kayla.
“Tak ada
yang mau ke taman jam segini jika kau bukan pasangan yang dimabuk asmara. Tapi,
nyatanya aku datang ke taman yang sepi, tuh.” kataku.
“Memangnya
semua tempat dikuasai oleh para pasangan? Kalau iya, aku bakal demo untuk
menuntut hakku.”
Kami
tertawa di depan taman, menceritakan beberapa hal sehingga kami memutuskan
masuk ke taman dan duduk karena terlalu banyak yang ingin kami bicarakan. Tentu
saja.
Kau nggak
akan menemukan Kayla di sekolah. Dia beda sekolah denganku, salah satu sekolah
internasional lain, yang lebih dekat dengan apartemennya. Kuakui, dia hebat.
Tinggal di apartemen dengan kakak perempuannya sejak SD? Kayla bukanlah orang
asli Indonesia. Kayla jelas terlihat sebagai keturunan Irlandia dnegan rambut
pirang keemasan dan mata birunya. Orangtuanya bekerja di Swedia, dan satu
pertanyaan yang pasti terbersit di benakmu.
Bagaimana
bisa Kayla ada di Indonesia jika dia keturunan Irlandia dan orangtuanya bekerja
di Swedia?
Bisa
saja. Kayla besar di dalam keluarga bibinya. Awalnya mereka tinggal di
Australia sampai tuntutan pekerjaan pula yang membuat keluarga bibinya terpaksa
pindah ke Indonesia. Kayla memutuskan akan kembali ke Irlandia saat umurnya
tujuh belas tahun, entah kenapa harus tujuh belas.
Aku,
Dera, dan Kayla bertemu saat olimpiade Matematika yang kuikuti saat kelas
tujuh. Kami semakin sering berjumpa dan entah bagaimana waktu membawa kami ke
dalam jalinan persahabatan. Dan aku mensyukurinya.
Setidaknya
aku punya dua bintang untuk bertumpu melawan masa lalu demi masa depanku maupun
hari kini.
()
Sebenarnya, part ini cuma part selingan buat ngenalin karakter Kayla biar lebih gampang dan karena part yang selanjutnya adalah twist buat semuanya. Seenggaknya, aku bakalan nge-post part IV nanti malam, yaaaay!
No comments:
Post a Comment