July 04, 2012

Seribu Pesawat Part V


I'm apologize for da super late post! I've lost some because my laptop was getting error but it's okay now. Yeah, here it is, everyone, Seribu Pesawat Part V.
If you didn't read it before, you better check this  :)


()
            Aku sedang di kamarku ketika beberapa pertanyaan terlintas di benakku. Semua yang ditanyakan Dera tentang perasaanku, tentang, Dave, tentang cinta.
            Seharusnya, Dera benar. Seharusnya setelah sekian lama terpuruk seorang gadis sepertiku memang harus mulai percaya pada cinta. Percaya bahwa cinta sebenarnya akan menunjukan padaku suatu hal yang menakjubkan dalam hidupku, tak hanya masalah meluluatau keusilan Dera melulu. Seharusnya. Tapi, aku terlalu berbeda. Seperti halnya ketika gadis-gadis lain menyukai merah muda, aku malah menyukai hitam atau biru yang kukira mampu menutupi sisi gelapku, diriku yang terlalu tertutup oleh jutaan gembok kekhawatiranku.
            Aku berjalan ke piano, frustasi karena pikiran-pikiran itu. Aku memainkan beberapa tangga nada, kemudian tanpa sengaja memainkan The Way You Look At Me. Kemudian, aku baru menyadari selama aku memainkan lagu itu aku memikirkan Dave dan bagaimana dia menatapku di studio musik, di perpustakaan, di koridor, di kantin, setiap dia menatapku, ada hal yang berbeda.
            Apakah aku telah jatuh cinta?
            Tapi, jika iya, mengapa aku tak begitu yakin? Mengapa aku sangat tidak percaya pada perasaanku sendiri?
            Dave. Jika kau tahu Dave kau juga pasti tahu bahwa dia cowok yang biasanya menjadi cowok populer di sekolah, berbakat tapi cuek. Dan harusnya kau tahu bahwa Dave disukai banyak cewek. Ya, mereka nggak histeris, sih. Tapi lihat saja tiap Dave berjalan melewati mereka, mereka bakal tersenyum gugup dan berbisik, “Ya ampun, dia keren banget,”. Yang benar saja, Dave itu nggak keren kalau lagi mengerjaiku.
            Tapi, jika ini bukan cinta, mengapa aku begitu peduli?
            Mengapa seorang Janette Aishling yang cuek bisa peduli pada hal seperti ini?
()
            Kelasku masih sepi, begitu juga lingkungan sekolah. Terlalu pagi, pikirku. Aku melempar ke bangku lalu berjalan ke pintu, tiba-tiba seorang menarik lenganku pelan. Vanna.
            “Aku baru ingat tadi ada cowok yang kesini,” kata Vanna. “Dia mencarimu.”
            “Siapa?” tanyaku.
            “Tunggu dulu….” Kata Vanna sambil mengingat-ingat.
            “Ciri-cirinya?”
            “Tinggi, kayak Peter di Red Riding Hood.” Jelasnya sambil tertawa pelan.
            “Hah?” aku mengira-ngira. “Dave?”
            “NAH, IYA!”
            Aku melirik. “Nggak usah histeris, Van.”
            Vanna tertawa lagi. “Apa kalian pacaran?”
            Aku terkesiap kemudian cepat-cepat menggeleng. Vanna memberiku tatapan tidak yakin lalu aku memutar otak untuk mengatakan sesuatu tapi, rupanya aku masih bingung bagaimana menjelaskannya.
            “Ehm…Dia bukan pacarku,” jawabku akhirnya. “Hanya… Ya, kau tahu, teman…”
            Vanna mengangguk-angguk lalu tersenyum dan pergi ke bangkunya. Kutebak dia akan mulai membajak ensiklopedia lagi, Anak Pintar. Aku berjalan ke kelas Dave yang tak terlamapu jauh dari kelasku tapi, aku malah melihat Dave berjalan di koridor.
            “Hei,” sapaku. “Kau mencariku? Ada apa?”
            “Ah, nggak apa-apa. Hanya ingin mengajakmu ke studio musik, kau tidak ke sana kemarin? Kenapa?”
            “Ya, kemarin ada rapat teater mendadak dan aku tidak sempat. Bukankah ada Adam?”
            “Adam mana mau diajak ke studio musik. Yang ada dia malah membawa makanan ke sana dan pada akhirnya yang membersihkan aku.”
            Aku tertawa pelan.
            “Jadi, kau mau ke studio musik besok siang?” ajak Dave.
            “Asal kau ke sana juga,” balasku.
            Kulihat Adam dari depan kelasnya menertawaiku, seakan menggoda aku yang sedang dengan Dave.
            “Err… Dave?” tanyaku. “Kukira sahabat gilamu itu mulai menertawai kita.”
            Dave menengok ke belakang dan tawa Adam meledak. “Kurasa aku harus membungkam mulutnya. Sampai jumpa, Janette.”
            “Oh, sampai jumpa Dave.” Aku tersenyum lalu berbalik menuju kelasku.
            Janette? Orang-orang biasa memanggilku Jane, tapi sedikit sekali orang yang memanggilku Janette dengan tersenyum. Hanya empat orang yang pernah, Ibu, Ayah, Dera, dan Kayla. Dan Dave, jadi lima. Kuakui, aku senang dipanggil Janette dan Dave bahkan tidak tahu fakta itu.
()
            “Jadi, bagaimana?” tanya Dera tiba-tiba saat kami sedang di kantin bersama Cher dan Sarah.
            “Bagaimana apanya?” tanyaku kebingungan.
            “Kau sebenarnya suka Dave juga tidak?” bisik Dera. Beruntung, Cher dan Sarah tidak terlalu memerhatikan pertanyaan Dera.
            “Topik sensitif. Kita tak seharusnya membahas itu di sini.”
            “Ayolah, Jane. Kau tahu aku sangat penasaran dengan jawabanmu. Kau tak cuek pada Dave, kau tidak memperlakukan dia seperti cowok yang lain. Jelas membuktikan bahwa kau suka padanya.”
            “Baiklah.” Aku menghela napas panjang. “Mungkin,”
            “Mungkin apa?” desaknya.
            “Mungkin… Mungkin iya.” Kuputuskan menjawab dengan ‘mungkin’ mengingat aku sendiri belum terlalu yakin.
            “Woo-hoo! Sekarang saatnya bilang ke Adam dan
            “Tidak, kau nggak boleh bilang tentang ini.” Potongku cepat.
            “Kenapa?” ucap Dera yang malah terdengar seperti anak berumur 5 tahun yang nggak diperbolehkan ibunya membeli balon.
            “Kau jelas tahu alasan utamanya.” Kataku. “Lagipula, kau juga tahu bahwa aku belum yakin.”
            Mungkin. Mungkin aku memang menyimpan perasaanku pada Dave.
            Dan, ya, mungkin aku memang telah jatuh cinta.
            Hanya mungkin ‘kan?
()
            Tebak hal yang akan menghancurkan rumahku dalam satu minggu secara instan?
            Tebak orang yang bisa melakukannya?
            Oke, Dera akan menginap di rumahku selama seminggu.
            Rumahku bakal jadi hancur berantakan, nih. Orangtua Dera memutuskan ini karena mereka harus membantu pernikahan bibinya, yang awalnya Dera ditawari menjadi bridesmaid namun dia menolaknya lantaran persiapan sampai pernikahannya sampai seminggu, apalagi diadakan di Swedia.
            Dera mungkin tidak menghancurkan rumahku dengan mengebom atau meledakannya atau apalah kau menyebutnya, tapi dia jelas bakal membuat rumahku seperti pasar siang-malam 24 jam, 7 hari. Gawatnya orangtuaku juga sedang bertugas di luar negeri.
            Aku memutuskan untuk memasak lasagna untuk kami sedangkan Dera bertugas membereskan kamar yang akan ditempatinya, tepat di sebelah kamarku. Tenang, kamar itu nggak kosong kok, kamar itu kamar keduaku, namun karena piano dan barang-barangku kebanyakan ada di kamar pertama aku tidak terlalu sering tidur di kamar itu.
            “Hei, Dave, kau punya DVD film apa saja?” seru Dera dari atas.
            Aku tertawa gugup sebelum mengatakan, “Yah, kau bisa lihat sendiri.”
            “Aha, aku dengar kau tertawa gugup, Jane!” serunya lagi, membuatku tambah merasa aneh.
            “T-Tidak.” Jawabku terbata-bata.
            “Aku hanya Dera, Jane. Jujurlah kalau kau memang menyukainya.”
            “Kalau kau nggak mau tidur di teras, it’s better if you shut up.” Aku tertawa pelan.
            Dera malah tertawa terbahak-bahak lalu lama-lama terdiam.
            Aku hanya tak ingin membicarakan tentang Dave dulu, sudah cukup dia ada di pikiranku dan aku tak mau selalu tentang Dave. I’ve my own life now, and I know I’m gonna livin’ it up.
            Mungkin, aku bisa berusaha tidak membicarakannya, tapi aku tidak mungkin bisa berhenti memikirkannya. Aku tak bisa tak ingat bagaimana caranya menatapku dengan berbeda. Membuatku merasa baik bahakn karena aku berbeda. Merasa dihargai.
            Mungkin.
            Jadi, apakah ini cinta?
            Ya, aku telah mengajukan pertanyaan bodoh itu. Bagaimana bisa aku menanyakan hal seperti itu? Tapi, aku serius. Aku telah mengubur masa lalu dalam sisi gelapku, tak ingin menguaknya sedikit pun. Aku telah berjalan terlalu jauh dan lama dari keterpurukan masa lalu. Dan lagi-lagi, mungkin, semua tentang cinta ikut tenggelam dalam suramnya kenangan pahit yang tak pernah ingin kuingat lagi.
            Apakah aku telah jatuh cinta?
            Apa aku memang seharusnya jatuh cinta padanya?
()

Please leave any comments or message. I need it. Thankyou!

No comments:

Post a Comment