I'm apologize for da super late post! I've lost some because my laptop was getting error but it's okay now. Yeah, here it is, everyone, Seribu Pesawat Part V.
If you didn't read it before, you better check this :)
()
Aku
sedang di kamarku ketika beberapa pertanyaan terlintas di benakku. Semua yang
ditanyakan Dera tentang perasaanku, tentang, Dave, tentang cinta.
Seharusnya,
Dera benar. Seharusnya setelah sekian lama terpuruk seorang gadis sepertiku
memang harus mulai percaya pada cinta. Percaya bahwa cinta sebenarnya akan
menunjukan padaku suatu hal yang menakjubkan dalam hidupku, tak hanya masalah
melulu―atau keusilan Dera melulu. Seharusnya. Tapi, aku terlalu berbeda. Seperti halnya ketika
gadis-gadis lain menyukai merah muda, aku malah menyukai hitam atau biru yang
kukira mampu menutupi sisi gelapku, diriku yang terlalu tertutup oleh jutaan
gembok kekhawatiranku.
Aku
berjalan ke piano, frustasi karena pikiran-pikiran itu. Aku memainkan beberapa
tangga nada, kemudian tanpa sengaja memainkan The Way You Look At Me. Kemudian,
aku baru menyadari selama aku memainkan lagu itu aku memikirkan Dave dan
bagaimana dia menatapku di studio musik, di perpustakaan, di koridor, di
kantin, setiap dia menatapku, ada hal yang berbeda.
Apakah
aku telah jatuh cinta?
Tapi,
jika iya, mengapa aku tak begitu yakin? Mengapa aku sangat tidak percaya pada
perasaanku sendiri?
Dave.
Jika kau tahu Dave kau juga pasti tahu bahwa dia cowok yang biasanya menjadi
cowok populer di sekolah, berbakat tapi cuek. Dan harusnya kau tahu bahwa Dave
disukai banyak cewek. Ya, mereka nggak histeris, sih. Tapi lihat saja tiap Dave
berjalan melewati mereka, mereka bakal tersenyum gugup dan berbisik, “Ya ampun,
dia keren banget,”. Yang benar saja, Dave itu nggak keren kalau lagi
mengerjaiku.
Tapi,
jika ini bukan cinta, mengapa aku begitu peduli?
Mengapa
seorang Janette Aishling yang cuek bisa peduli pada hal seperti ini?
()
Kelasku
masih sepi, begitu juga lingkungan sekolah. Terlalu
pagi, pikirku. Aku melempar ke bangku lalu berjalan ke pintu, tiba-tiba seorang
menarik lenganku pelan. Vanna.
“Aku baru
ingat tadi ada cowok yang kesini,” kata Vanna. “Dia mencarimu.”
“Siapa?”
tanyaku.
“Tunggu
dulu….” Kata Vanna sambil mengingat-ingat.
“Ciri-cirinya?”
“Tinggi,
kayak Peter di Red Riding Hood.” Jelasnya sambil tertawa pelan.
“Hah?”
aku mengira-ngira. “Dave?”
“NAH,
IYA!”
Aku
melirik. “Nggak usah histeris, Van.”
Vanna
tertawa lagi. “Apa kalian pacaran?”
Aku
terkesiap kemudian cepat-cepat menggeleng. Vanna memberiku tatapan tidak yakin
lalu aku memutar otak untuk mengatakan sesuatu tapi, rupanya aku masih bingung
bagaimana menjelaskannya.
“Ehm…Dia
bukan pacarku,” jawabku akhirnya. “Hanya… Ya, kau tahu, teman…”
Vanna
mengangguk-angguk lalu tersenyum dan pergi ke bangkunya. Kutebak dia akan mulai
membajak ensiklopedia lagi, Anak Pintar. Aku berjalan ke kelas Dave yang tak
terlamapu jauh dari kelasku tapi, aku malah melihat Dave berjalan di koridor.
“Hei,”
sapaku. “Kau mencariku? Ada apa?”
“Ah,
nggak apa-apa. Hanya ingin mengajakmu ke studio musik, kau tidak ke sana
kemarin? Kenapa?”
“Ya,
kemarin ada rapat teater mendadak dan aku tidak sempat. Bukankah ada Adam?”
“Adam
mana mau diajak ke studio musik. Yang ada dia malah membawa makanan ke sana dan
pada akhirnya yang membersihkan aku.”
Aku
tertawa pelan.
“Jadi,
kau mau ke studio musik besok siang?” ajak Dave.
“Asal kau
ke sana juga,” balasku.
Kulihat
Adam dari depan kelasnya menertawaiku, seakan menggoda aku yang sedang dengan
Dave.
“Err…
Dave?” tanyaku. “Kukira sahabat gilamu itu mulai menertawai kita.”
Dave
menengok ke belakang dan tawa Adam meledak. “Kurasa aku harus membungkam
mulutnya. Sampai jumpa, Janette.”
“Oh,
sampai jumpa Dave.” Aku tersenyum lalu berbalik menuju kelasku.
Janette?
Orang-orang biasa memanggilku Jane, tapi sedikit sekali orang yang memanggilku
Janette dengan tersenyum. Hanya empat orang yang pernah, Ibu, Ayah, Dera, dan
Kayla. Dan Dave, jadi lima. Kuakui, aku senang dipanggil Janette dan Dave
bahkan tidak tahu fakta itu.
()
“Jadi,
bagaimana?” tanya Dera tiba-tiba saat kami sedang di kantin bersama Cher dan
Sarah.
“Bagaimana
apanya?” tanyaku kebingungan.
“Kau
sebenarnya suka Dave juga tidak?” bisik Dera. Beruntung, Cher dan Sarah tidak
terlalu memerhatikan pertanyaan Dera.
“Topik sensitif.
Kita tak seharusnya membahas itu di sini.”
“Ayolah,
Jane. Kau tahu aku sangat penasaran dengan jawabanmu. Kau tak cuek pada Dave,
kau tidak memperlakukan dia seperti cowok yang lain. Jelas membuktikan bahwa
kau suka padanya.”
“Baiklah.”
Aku menghela napas panjang. “Mungkin,”
“Mungkin
apa?” desaknya.
“Mungkin…
Mungkin iya.” Kuputuskan menjawab dengan ‘mungkin’ mengingat aku sendiri belum
terlalu yakin.
“Woo-hoo!
Sekarang saatnya bilang ke Adam dan―”
“Tidak,
kau nggak boleh bilang tentang ini.” Potongku cepat.
“Kenapa?”
ucap Dera yang malah terdengar seperti anak berumur 5 tahun yang nggak
diperbolehkan ibunya membeli balon.
“Kau jelas tahu alasan utamanya.” Kataku. “Lagipula,
kau juga tahu bahwa aku belum yakin.”
Mungkin.
Mungkin aku memang menyimpan perasaanku pada Dave.
Dan, ya,
mungkin aku memang telah jatuh cinta.
Hanya mungkin ‘kan?
()
Tebak hal
yang akan menghancurkan rumahku dalam satu minggu secara instan?
Tebak
orang yang bisa melakukannya?
Oke, Dera
akan menginap di rumahku selama seminggu.
Rumahku
bakal jadi hancur berantakan, nih. Orangtua Dera memutuskan ini karena mereka
harus membantu pernikahan bibinya, yang awalnya Dera ditawari menjadi
bridesmaid namun dia menolaknya lantaran persiapan sampai pernikahannya sampai
seminggu, apalagi diadakan di Swedia.
Dera
mungkin tidak menghancurkan rumahku dengan mengebom atau meledakannya atau
apalah kau menyebutnya, tapi dia jelas bakal membuat rumahku seperti pasar
siang-malam 24 jam, 7 hari. Gawatnya orangtuaku juga sedang bertugas di luar
negeri.
Aku
memutuskan untuk memasak lasagna untuk kami sedangkan Dera bertugas membereskan
kamar yang akan ditempatinya, tepat di sebelah kamarku. Tenang, kamar itu nggak
kosong kok, kamar itu kamar keduaku, namun karena piano dan barang-barangku
kebanyakan ada di kamar pertama aku tidak terlalu sering tidur di kamar itu.
“Hei,
Dave, kau punya DVD film apa saja?” seru Dera dari atas.
Aku
tertawa gugup sebelum mengatakan, “Yah, kau bisa lihat sendiri.”
“Aha, aku
dengar kau tertawa gugup, Jane!” serunya lagi, membuatku tambah merasa aneh.
“T-Tidak.”
Jawabku terbata-bata.
“Aku
hanya Dera, Jane. Jujurlah kalau kau memang menyukainya.”
“Kalau
kau nggak mau tidur di teras, it’s better if you shut up.” Aku tertawa pelan.
Dera
malah tertawa terbahak-bahak lalu lama-lama terdiam.
Aku hanya
tak ingin membicarakan tentang Dave dulu, sudah cukup dia ada di pikiranku dan
aku tak mau selalu tentang Dave. I’ve my own life now, and I know I’m gonna
livin’ it up.
Mungkin,
aku bisa berusaha tidak membicarakannya, tapi aku tidak mungkin bisa berhenti
memikirkannya. Aku tak bisa tak ingat bagaimana caranya menatapku dengan
berbeda. Membuatku merasa baik bahakn karena aku berbeda. Merasa dihargai.
Mungkin.
Jadi,
apakah ini cinta?
Ya, aku
telah mengajukan pertanyaan bodoh itu. Bagaimana bisa aku menanyakan hal
seperti itu? Tapi, aku serius. Aku telah mengubur masa lalu dalam sisi gelapku,
tak ingin menguaknya sedikit pun. Aku telah berjalan terlalu jauh dan lama dari
keterpurukan masa lalu. Dan lagi-lagi, mungkin, semua tentang cinta ikut
tenggelam dalam suramnya kenangan pahit yang tak pernah ingin kuingat lagi.
Apakah
aku telah jatuh cinta?
Apa aku memang seharusnya jatuh cinta padanya?
()
Please leave any comments or message. I need it. Thankyou!
No comments:
Post a Comment