Setelah dikejar-kejar Alsa buat ngelanjutin, dan ide sedang mengalir, part II selesai!
Here it is ;)
()
Aku berjalan lesu ke kelas. Masih
mengantuk dan lelah karena semalaman begadang demi menyelesaikan naskah teater.
Aku bertekad bakal menyelesaikannya semalam, namun tetap saja kantuk telah
merambat dan menghambatku. Padahal, kurang sedikit lagi selesai dari konsep
yang diberikan Irina, ketua klub teater.
Dari apa yang telah kukatakan,
harusnya kau tahu jelas aku anggota teater. Ya, penulis naskah. Tapi Irina
selalu memintaku ikut berperan dan biasanya aku juga mendapat peran yang cukup
besar. Apalagi, teater sekolah kami adalah salah satu kelompok teater dari
belasan yang diakui hebat oleh pemerintah. Dan aku, sangat bangga aku bisa
menjadi bagiannya.
Setelah masa kelam yang kualami,
aku mulai menekuni seni. Tapi yang paling mendominasi hanyalah teater atau
semacamnya dan musik. Entah kenapa aku tak bisa memilih antara keduanya untuk
diutamakan.
Oh, kurasa aku samar-samar
mendengar suara bel masuk.
Tiba-tiba, aku merasakan rangkulan
lembut di bahuku.
“Hei, Ngantuk,” Menatapku sebentar
kemudian berkata, “Kapan, sih, kau mau kenal sama Dave?” tanya Dera.
“Aku kenal dia, kok,” jawabku
cepat, “Namanya Dave,”
“Bukan seperti itu, Jane.” sergahnya.
Ya, jelas aku tahu apa yang ada di pikirannya. Ya, jelas aku paham apa
maksudnya. Ya, tentu saja aku tahu.
“Aku hanya tak ingin mengulangi
masa lalu, Ra. Dan, kau pun tahu itu.”
“Kau juga tahu aku ingin yang
terbaik untukmu, Jane. Tak ada seorangpun yang ingin sahabatnya sendiri
terluka,” kata Dera sambil tersenyum simpul.
Aku mengangguk, member tatapan aku-percaya-bahwa-kau-benar.
Sudah beberapa hari sejak Dera berusaha mengenalkanku pada Dave, bergabung
dengan dia dan Adam. Sebenarnya, aku bukan takut mengulangi kesalahan di masa
laluku. Aku bukannya ingin menjadi anti-cowok. Tapi, aku takut satu hal sejak
aku terpuruk.
Aku takut jatuh cinta.
()
Perpustakaan
cukup sepi hari ini. Tersadar bahwa faktanya, perpustakaan memang selalu
begini. Aku berjalan pelan ke salah satu bangku di tengah perpustakaan, tak
sengaja mengagetkan sebagian kecil perpustakaan setelah menjatuhkan buku-buku
terlalu keras. Aku tersenyum minta maaf dan mereka berlagak seperti tak ada
yang terjadi. Naskah yang kubuat sudah selesai, namun aku masih harus
mengoreksinya sebelum menyerahkannya ke Irina. Kukeluarkan beberapa spidol dan
pena dari dalam tas.
Memang
ada beberapa bagian yang salah, dan itu berarti aku harus mengedit naskah nati
malam.
“Kau
penulis naskah klub teater?”
Aku
mencari asal suara, seorang cowok di sampingku. Sepertinya, aku pernah tahu
siapa dia. Rasanya, Dera pernah memberitahuku. Tapi, entahlah.
Dia
tertawa pelan, memalingkan muka kea rah lain lalu melihatku lagi. “Kau nggak
tahu, ya, siapa aku?”
Aku
mengernyitkan dahi, merasa familiar dengannya namun di otakku hanya ada barisan
tanda tanya tanpa akhir, dan malah membuatnya tertawa.
“Sahabatmu
‘kan dekat dengan sahabatku.” Dia memainkan penanya. “Aku Dave, pernah dengar?”
“Setidaknya,
Dera kadangkali menyebutmu di depanku,” aku tersenyum.
“Untuk
apa?” tanyanya singkat.
“Entahlah,”
jawabku sama singkatnya. “Oh, ya, apa kau tahu namaku?”
Dave menggelengkan
kepala pelan, agak berkonsentrasi pada apa yang sedang ditulisnya. Aku jadi
tertahan. Entah kenapa, ada satu hal dari Dave yang langsung membuatku merasa
aneh. Bukan jatuh cinta, dan kau tahu aku malah takut jatuh cinta. Tapi,
sesuatu yang membuat Dave berbeda, menurutnya maupun orang lain, entah dari
apapun.
“Janette,”
sengaja kuberitahukan nama depanku dulu, “Tapi, panggil saja Jane.”
“Hei, apa
kau bisa membantuku dalam aljabar?” tanyanya.
“Dave,”
kataku. “Jadi, daritadi kau nggak mendengarkanku?”
Dave
menatapku, lalu tersenyum sebelum berkata, “Tentu saja aku dengar. Lagipula,
daritadi ‘kan kau diam saja?”
“EHm,
oke, mungkin itu benar,” jawabku.
“Kau bisa
mengajariku aljabar, nggak, nih?” tanyanya agak tertekan.
“Bisa,
memang ada masalah apa dengan aljabar?” tanyaku balik.
“Sejak
dulu aku memang payah di Matematika. Miss Alli memberikanku PR aljabar lebih
banyak, tapi, aku nggak pernah paham bagaimana cara mengerjakannya,”
Aku
menahan tawa sebelum Dave melihatku dengan tatapan
jangan-tertawai-aku-karena-hal-itu-karena-nggak-lucu-bagiku. Aku melirik lembar
yang baru terisi seperempat, dan penuh corat-coret. Dave melirikku balik,
menggeser pelan selembar kertas dan sebuah pensil.
“Kau
butuh bantuan mengoreksi naskah?” tanya Dave pelan.
“Ya, kau
mau membantuku?”
“Jika kau
mengizinkannya.”
Aku
menarik lembaran PR miliknya dan menukarnya dengan lembar-lembar naskah. Dia
mengambil spidol biruku dan mulai membaca dari awal sedangkan aku mulai
mengerjakan PR aljabar.
“Dave?
Kau ingin aku mengerjakannya atau mengajarimu, sih?” aku tersadar bahwa pada
awalnya aku diminta mengajarinya.
“Kau bisa
mengajari aku yang nggak paham-paham?” tanya Dave yang langsung tertawa.
“Coba
saja,” kataku percaya diri lalu ikut tertawa.
Namun,
kami terlalu larut dalam tawa sehingga tak memedulikan sekeliling sehingga petugas
perpustakaan berdiri, menatap marah ke arah kami setelah berdehem karena kami
membuat keributan.
“Dave,
kayaknya kalau kita nggak segera pergi, kita bakal diusir, deh,” bisikku.
“Benar.
Kau bawa tas dan PR-ku, kubawakan naskahmu, dan..”
Aku
melirik Dave cepat karena dia terdiam beberapa detik.
“Saatnya
lari!” seru Dave yang lebih mirip seperti bisikan.
Dan aku
baru saja sadar, Dave tidaklah seburuk yang kubayangkan. Seperti menemukan hal
yang baru dalam hidup, memberikan secercah harapan baru. Tapi, jika Dera tahu
hal ini, ah, kau tahulah apa yang akan terjadi.
Siang
ini, aku merasakan lembar baru benar-benar terbuka.
()
Hope I can post the next part this week, seeyaps <3
Weseleh, dibuat ber-part-part aja, Nad, terus jadiin buku hehe.
ReplyDelete