June 25, 2012

Seribu Pesawat Part II

Hai~
Setelah dikejar-kejar Alsa buat ngelanjutin, dan ide sedang mengalir, part II selesai!
Here it is ;)


()
Aku berjalan lesu ke kelas. Masih mengantuk dan lelah karena semalaman begadang demi menyelesaikan naskah teater. Aku bertekad bakal menyelesaikannya semalam, namun tetap saja kantuk telah merambat dan menghambatku. Padahal, kurang sedikit lagi selesai dari konsep yang diberikan Irina, ketua klub teater.
Dari apa yang telah kukatakan, harusnya kau tahu jelas aku anggota teater. Ya, penulis naskah. Tapi Irina selalu memintaku ikut berperan dan biasanya aku juga mendapat peran yang cukup besar. Apalagi, teater sekolah kami adalah salah satu kelompok teater dari belasan yang diakui hebat oleh pemerintah. Dan aku, sangat bangga aku bisa menjadi bagiannya.
Setelah masa kelam yang kualami, aku mulai menekuni seni. Tapi yang paling mendominasi hanyalah teater atau semacamnya dan musik. Entah kenapa aku tak bisa memilih antara keduanya untuk diutamakan.

Oh, kurasa aku samar-samar mendengar suara bel masuk.

Tiba-tiba, aku merasakan rangkulan lembut di bahuku.

“Hei, Ngantuk,” Menatapku sebentar kemudian berkata, “Kapan, sih, kau mau kenal sama Dave?” tanya Dera.
“Aku kenal dia, kok,” jawabku cepat, “Namanya Dave,”
“Bukan seperti itu, Jane.” sergahnya. Ya, jelas aku tahu apa yang ada di pikirannya. Ya, jelas aku paham apa maksudnya. Ya, tentu saja aku tahu.
“Aku hanya tak ingin mengulangi masa lalu, Ra. Dan, kau pun tahu itu.”
“Kau juga tahu aku ingin yang terbaik untukmu, Jane. Tak ada seorangpun yang ingin sahabatnya sendiri terluka,” kata Dera sambil tersenyum simpul.
Aku mengangguk, member tatapan aku-percaya-bahwa-kau-benar. Sudah beberapa hari sejak Dera berusaha mengenalkanku pada Dave, bergabung dengan dia dan Adam. Sebenarnya, aku bukan takut mengulangi kesalahan di masa laluku. Aku bukannya ingin menjadi anti-cowok. Tapi, aku takut satu hal sejak aku terpuruk.


Aku takut jatuh cinta.

()


            Perpustakaan cukup sepi hari ini. Tersadar bahwa faktanya, perpustakaan memang selalu begini. Aku berjalan pelan ke salah satu bangku di tengah perpustakaan, tak sengaja mengagetkan sebagian kecil perpustakaan setelah menjatuhkan buku-buku terlalu keras. Aku tersenyum minta maaf dan mereka berlagak seperti tak ada yang terjadi. Naskah yang kubuat sudah selesai, namun aku masih harus mengoreksinya sebelum menyerahkannya ke Irina. Kukeluarkan beberapa spidol dan pena dari dalam tas.

            Memang ada beberapa bagian yang salah, dan itu berarti aku harus mengedit naskah nati malam. 

            “Kau penulis naskah klub teater?” 

            Aku mencari asal suara, seorang cowok di sampingku. Sepertinya, aku pernah tahu siapa dia. Rasanya, Dera pernah memberitahuku. Tapi, entahlah.
            Dia tertawa pelan, memalingkan muka kea rah lain lalu melihatku lagi. “Kau nggak tahu, ya, siapa aku?”
            Aku mengernyitkan dahi, merasa familiar dengannya namun di otakku hanya ada barisan tanda tanya tanpa akhir, dan malah membuatnya tertawa.
            “Sahabatmu ‘kan dekat dengan sahabatku.” Dia memainkan penanya. “Aku Dave, pernah dengar?”
            “Setidaknya, Dera kadangkali menyebutmu di depanku,” aku tersenyum.
            “Untuk apa?” tanyanya singkat.
            “Entahlah,” jawabku sama singkatnya. “Oh, ya, apa kau tahu namaku?”
            Dave menggelengkan kepala pelan, agak berkonsentrasi pada apa yang sedang ditulisnya. Aku jadi tertahan. Entah kenapa, ada satu hal dari Dave yang langsung membuatku merasa aneh. Bukan jatuh cinta, dan kau tahu aku malah takut jatuh cinta. Tapi, sesuatu yang membuat Dave berbeda, menurutnya maupun orang lain, entah dari apapun.
            “Janette,” sengaja kuberitahukan nama depanku dulu, “Tapi, panggil saja Jane.”
            “Hei, apa kau bisa membantuku dalam aljabar?” tanyanya.
            “Dave,” kataku. “Jadi, daritadi kau nggak mendengarkanku?”
            Dave menatapku, lalu tersenyum sebelum berkata, “Tentu saja aku dengar. Lagipula, daritadi ‘kan kau diam saja?”
            “EHm, oke, mungkin itu benar,” jawabku.
            “Kau bisa mengajariku aljabar, nggak, nih?” tanyanya agak tertekan.
            “Bisa, memang ada masalah apa dengan aljabar?” tanyaku balik.
            “Sejak dulu aku memang payah di Matematika. Miss Alli memberikanku PR aljabar lebih banyak, tapi, aku nggak pernah paham bagaimana cara mengerjakannya,”
            Aku menahan tawa sebelum Dave melihatku dengan tatapan jangan-tertawai-aku-karena-hal-itu-karena-nggak-lucu-bagiku. Aku melirik lembar yang baru terisi seperempat, dan penuh corat-coret. Dave melirikku balik, menggeser pelan selembar kertas dan sebuah pensil.
            “Kau butuh bantuan mengoreksi naskah?” tanya Dave pelan.
            “Ya, kau mau membantuku?”
            “Jika kau mengizinkannya.”
            Aku menarik lembaran PR miliknya dan menukarnya dengan lembar-lembar naskah. Dia mengambil spidol biruku dan mulai membaca dari awal sedangkan aku mulai mengerjakan PR aljabar.
            “Dave? Kau ingin aku mengerjakannya atau mengajarimu, sih?” aku tersadar bahwa pada awalnya aku diminta mengajarinya.
            “Kau bisa mengajari aku yang nggak paham-paham?” tanya Dave yang langsung tertawa.
            “Coba saja,” kataku percaya diri lalu ikut tertawa.
            Namun, kami terlalu larut dalam tawa sehingga tak memedulikan sekeliling sehingga petugas perpustakaan berdiri, menatap marah ke arah kami setelah berdehem karena kami membuat keributan.
            “Dave, kayaknya kalau kita nggak segera pergi, kita bakal diusir, deh,” bisikku.
            “Benar. Kau bawa tas dan PR-ku, kubawakan naskahmu, dan..”
            Aku melirik Dave cepat karena dia terdiam beberapa detik.
            “Saatnya lari!” seru Dave yang lebih mirip seperti bisikan.

            Dan aku baru saja sadar, Dave tidaklah seburuk yang kubayangkan. Seperti menemukan hal yang baru dalam hidup, memberikan secercah harapan baru. Tapi, jika Dera tahu hal ini, ah, kau tahulah apa yang akan terjadi.


            Siang ini, aku merasakan lembar baru benar-benar terbuka.
()

 Hope I can post the next part this week, seeyaps <3

1 comment:

  1. Weseleh, dibuat ber-part-part aja, Nad, terus jadiin buku hehe.

    ReplyDelete