( )
"Kau langsung pulang?"
tanya Dera.
"Ya, buat apa lagi aku di
sini? Lagipula, aku harus mengerjakan naskah untuk teater bulan depan."
jawabku yang kemudian tersenyum.
Dera tersenyum simpul, "Kau
langsung pulang atau ikut aku makan?"
"Nggak, deh, kalau kau nggak sama
Dave."
"Dera, kau jelas tahu apa
masalahku."
"Jane," kata Dera.
"Sampai kapan kau mau menahan semuanya? Sampai kapan kau tak mau percaya
pada cinta?"
"Sampai cinta membuatku
percaya," ujarku.
"Lalu, kapan itu terjadi? Ini
sudah terlalu lama. Lupakan masa lalu!"
"Aku sudah melupakannya!
Bisakah kau berhenti mengungkit-ungkitnya?"
"Jane," bisik Dera
pelan.
"Aku hanya tak ingin jatuh
pada kesalahan yang sama."
"Saatnya kau percaya, Jane.
Aku ingin kau bahagia, bukan terjebak dalam keadaan seperti ini."
"Aku pulang dulu,"
kataku setelah kulihat Adam berdiri tepat di belakang Dera sambil menahan tawa.
Aku berbalik.
Pulang.
Namun, kenangan pahit itu terlanjur menyeruak.
Dari tempat dimana ku simpan rapat
semuanya.
Dan kini yang hanya bisa kulakukan
hanyalah menahan semuanya.
Memendam lebih banyak kenangan dan
memori dalam hati.
Membuat semua hal dariku menjadi
sebuah misteri besar bagi semua orang.
()
Kau bahkan mendengar semua itu
saat kau tak tahu apapun tentangku, ya?
Namaku Janette Aishling, atau
Jane. Mungkin di sini, namaku terdengar asing. Cukup asing. Oke, aku berdarah
Indonesia-Inggris. Orangtuaku memutuskan untuk menyekolahkanku di Indonesia
sampai lulus SMA dan kemudian pindah ke Inggris, melanjutkan kuliah dan kurasa
menetap di sana.
Aku terbiasa untuk hidup mandiri,
seakan aku adalah makhluk anti-sosial yang bisa melakukan apa saja.
Namun
aku sangat bermasalah. Bukan karena aku gadis yang memiliki perilaku buruk,
tapi jelas tiap hari dalam hidupku, semua udara yang ada membawakanku masalah.
Dan aku tak pernah punya teman untuk bertahan sampai kutemukan Dera dan Kayla.
Mungkin,
orang-orang melihatku sebagai sosok yang ceria, yang bahagia, dan easy-going. Aku
yang selalu tersenyum pada semua orang. Aku yang selalu terlihat tak pernah
bermasalah. Aku yang selalu terlihat takkan mungkin menangis atau bahkan sedih.
Mereka
semua salah.
Mereka
semua salah mengiraku.
Aku jelas bukan gadis yang mereka lihat di dalam.
Jika saja mereka tahu, tak ada
seorangpun yang tahu bagaimana rasanya jadi aku yang pernah begitu terpuruk
oleh berbagai masalah yang ada dalam hidup. Masalah yang tak pernah kau
bayangkan bisa ada dalam hidup.
Dan aku seorang diri menghadapinya
seolah aku bisa mengatasi semuanya, mengembalikan apa yang telah diambil dari hidupku,
dan membuat semuanya menjadi sama. Aku salah, aku tak bisa. Dan semuanya
bertambah rumit ketika semua kepercayaan diriku akan kemampuan mengatasinya,
menghilang. Seakan ada kabut halus yang menyelimutiku, mengajakku untuk
bergabung, seperti ialah yang akan menyelamatkanku. Tapi, lama kelamaan, kabut
halus itu berubah semakin menebal dan menghitam, menyelubungi hidupku dengan
kegelapan yang terlalu suram untuk dihapus, mengahancurkan jalanan yang telah
kulalui dengan puing-puing kenangan pahit. Dan aku harus membangun semuanya
dari awal.
Aku memang mulai membangun
semuanya dari awal, menata hidupku dari permulaan, dan mengubur kenangan pahit
itu. Aku berusaha melupakan saat aku terpuruk, saat aku jatuh dalam kekelaman.
Namun, aku harus sadar aku takkan pernah bisa lupa.
Terutama, pada cinta.
Karena, pada awalnya yang membuat
kabut halus itu adalah…
Cinta.
()
I'll post the next part soon.
Please comment this part here or to my Twitter.
No comments:
Post a Comment