June 23, 2012

Seribu Pesawat Part 1

This is the first part of the story!



( )


"Kau langsung pulang?" tanya Dera.
"Ya, buat apa lagi aku di sini? Lagipula, aku harus mengerjakan naskah untuk teater bulan depan." jawabku yang kemudian tersenyum.
Dera tersenyum simpul, "Kau langsung pulang atau ikut aku makan?"
"Sama Adam lagi?" sindirku. "Jadian aja, sana."
 "Nggak, deh, kalau kau nggak sama Dave."
"Dera, kau jelas tahu apa masalahku."
"Jane," kata Dera. "Sampai kapan kau mau menahan semuanya? Sampai kapan kau tak mau percaya pada cinta?"
"Sampai cinta membuatku percaya," ujarku.
"Lalu, kapan itu terjadi? Ini sudah terlalu lama. Lupakan masa lalu!"
"Aku sudah melupakannya! Bisakah kau berhenti mengungkit-ungkitnya?"
"Jane," bisik Dera pelan.
"Aku hanya tak ingin jatuh pada kesalahan yang sama."
"Saatnya kau percaya, Jane. Aku ingin kau bahagia, bukan terjebak dalam keadaan seperti ini."
"Aku pulang dulu," kataku setelah kulihat Adam berdiri tepat di belakang Dera sambil menahan tawa.
Aku berbalik.
Pulang.
Namun, kenangan pahit itu terlanjur menyeruak.
Dari tempat dimana ku simpan rapat semuanya.
Dan kini yang hanya bisa kulakukan hanyalah menahan semuanya.
Memendam lebih banyak kenangan dan memori dalam hati.
Membuat semua hal dariku menjadi sebuah misteri besar bagi semua orang.

()

Kau bahkan mendengar semua itu saat kau tak tahu apapun tentangku, ya?

Namaku Janette Aishling, atau Jane. Mungkin di sini, namaku terdengar asing. Cukup asing. Oke, aku berdarah Indonesia-Inggris. Orangtuaku memutuskan untuk menyekolahkanku di Indonesia sampai lulus SMA dan kemudian pindah ke Inggris, melanjutkan kuliah dan kurasa menetap di sana.
            Aku terbiasa untuk hidup mandiri, seakan aku adalah makhluk anti-sosial yang bisa melakukan apa saja.
            Namun aku sangat bermasalah. Bukan karena aku gadis yang memiliki perilaku buruk, tapi jelas tiap hari dalam hidupku, semua udara yang ada membawakanku masalah. Dan aku tak pernah punya teman untuk bertahan sampai kutemukan Dera dan Kayla.
            Mungkin, orang-orang melihatku sebagai sosok yang ceria, yang bahagia, dan easy-going. Aku yang selalu tersenyum pada semua orang. Aku yang selalu terlihat tak pernah bermasalah. Aku yang selalu terlihat takkan mungkin menangis atau bahkan sedih.
            Mereka semua salah.
            Mereka semua salah mengiraku.
Aku jelas bukan gadis yang mereka lihat di dalam.
Jika saja mereka tahu, tak ada seorangpun yang tahu bagaimana rasanya jadi aku yang pernah begitu terpuruk oleh berbagai masalah yang ada dalam hidup. Masalah yang tak pernah kau bayangkan bisa ada dalam hidup.
Dan aku seorang diri menghadapinya seolah aku bisa mengatasi semuanya, mengembalikan apa yang telah diambil dari hidupku, dan membuat semuanya menjadi sama. Aku salah, aku tak bisa. Dan semuanya bertambah rumit ketika semua kepercayaan diriku akan kemampuan mengatasinya, menghilang. Seakan ada kabut halus yang menyelimutiku, mengajakku untuk bergabung, seperti ialah yang akan menyelamatkanku. Tapi, lama kelamaan, kabut halus itu berubah semakin menebal dan menghitam, menyelubungi hidupku dengan kegelapan yang terlalu suram untuk dihapus, mengahancurkan jalanan yang telah kulalui dengan puing-puing kenangan pahit. Dan aku harus membangun semuanya dari awal.
Aku memang mulai membangun semuanya dari awal, menata hidupku dari permulaan, dan mengubur kenangan pahit itu. Aku berusaha melupakan saat aku terpuruk, saat aku jatuh dalam kekelaman. Namun, aku harus sadar aku takkan pernah bisa lupa.
Terutama, pada cinta.
Karena, pada awalnya yang membuat kabut halus itu adalah…
Cinta.

()


I'll post the next part soon.


Please comment this part here or to my Twitter.

No comments:

Post a Comment