Jika mencintai adalah salah
Lantas, mengapa Tuhan menciptakan cinta?
Jika menyayangi adalah terlarang
Lantas, apa gunanya ada peduli?
Dan jika bertahan adalah sia-sia
Maka, harusnya semuanya telah menyerah
Jika pergi adalah sebaiknya
Untuk apa melanggar tercipta?
Namun jika menunggu adalah letih
Aku pasti adalah seorang yang sangat letih
Kau telah datang ke dalam hidupku
Membawaku ke harapan yang tak pernah ku lihat sebelumnya
Dan kau membuatku mencintaimu
Kau membuatku tersenyum
Tapi, apa aku membuatmu tersenyum?
Tidak
Kau telah hadir dalam kisahku
Dalam cerita hidupku
Perjalananku
Tapi, apa aku termasuk dalam milikmu?
Tidak
Kau telah membuatku berusaha menjadi sempurna
Menjadi apa yang kau mau
Menjadi aku yang bukan aku
Tapi, apa itu akhirnya berarti untukmu?
Tidak
Kau membuatku percaya aku masih bisa berharap
Maka aku melemparmu harapanku
Berharap kau bersedia menangkapnya
Tapi, apa kau tangkap?
Tidak
Kau memang berarti buatku
Namun setelah semuanya?
Aku merasa sia-sia, bodoh
Dan untuk pertama kalinya dalah hidupku
Aku merasa anganku dirampas
Dan jati diriku yang sebenarnya termanipulasi
Oleh keinginanku menjadi apa yang kau mau
Walau aku sadar takkan pernah bisa
Aku memang bodoh, untuk bertahan
Untuk berharap
Untuk menunggu
Namun, aku tidak bodoh untuk satu hal
Aku tidak bodoh untuk mencintaimu
Meskipun mencintaimu adalah kesalahan fatal
Aku mulai berjalan mundur, kini
Berharap akan ada yang mendekapku dari belakang
Berbisik,"Aku melindungimu,"
Bahkan meski itu hanya mimpi bualan belaka
Yang penting aku tidak sia-sia
Karena semuanya rumit untuk dijelaskan
Karena segalanya terlalu menyakitkan untuk dikelabui
Dan segalanya dimulai dari aku yang mencintaimu
Bukan kau
Karena pada akhirnya hanya satu hal yang bisa ku ungkap
Satu kalimat penuh arti yang menjelaskan semua
Tak perlu berbelit-belit untuk mengatakannya
Aku bahkan tak butuh konotasi, kiasan
Dan aku juga tidak membubuhi hiperbola
Semuanya karena aku, bukan kau
Perasaanku, bukan ketidak-pedulianmu
Kasihku, bukan salahmu
Karena ada saat dimana penantian harus menemui titik puncaknya
Kurasa, inilah saat itu
Saat kita berdua sama-sama tak peduli satu sama lain
Dan, terlebih
Karena mencintaimu adalah salah.
Lantas, mengapa Tuhan menciptakan cinta?
Jika menyayangi adalah terlarang
Lantas, apa gunanya ada peduli?
Dan jika bertahan adalah sia-sia
Maka, harusnya semuanya telah menyerah
Jika pergi adalah sebaiknya
Untuk apa melanggar tercipta?
Namun jika menunggu adalah letih
Aku pasti adalah seorang yang sangat letih
Kau telah datang ke dalam hidupku
Membawaku ke harapan yang tak pernah ku lihat sebelumnya
Dan kau membuatku mencintaimu
Kau membuatku tersenyum
Tapi, apa aku membuatmu tersenyum?
Tidak
Kau telah hadir dalam kisahku
Dalam cerita hidupku
Perjalananku
Tapi, apa aku termasuk dalam milikmu?
Tidak
Kau telah membuatku berusaha menjadi sempurna
Menjadi apa yang kau mau
Menjadi aku yang bukan aku
Tapi, apa itu akhirnya berarti untukmu?
Tidak
Kau membuatku percaya aku masih bisa berharap
Maka aku melemparmu harapanku
Berharap kau bersedia menangkapnya
Tapi, apa kau tangkap?
Tidak
Kau memang berarti buatku
Namun setelah semuanya?
Aku merasa sia-sia, bodoh
Dan untuk pertama kalinya dalah hidupku
Aku merasa anganku dirampas
Dan jati diriku yang sebenarnya termanipulasi
Oleh keinginanku menjadi apa yang kau mau
Walau aku sadar takkan pernah bisa
Aku memang bodoh, untuk bertahan
Untuk berharap
Untuk menunggu
Namun, aku tidak bodoh untuk satu hal
Aku tidak bodoh untuk mencintaimu
Meskipun mencintaimu adalah kesalahan fatal
Aku mulai berjalan mundur, kini
Berharap akan ada yang mendekapku dari belakang
Berbisik,"Aku melindungimu,"
Bahkan meski itu hanya mimpi bualan belaka
Yang penting aku tidak sia-sia
Karena semuanya rumit untuk dijelaskan
Karena segalanya terlalu menyakitkan untuk dikelabui
Dan segalanya dimulai dari aku yang mencintaimu
Bukan kau
Karena pada akhirnya hanya satu hal yang bisa ku ungkap
Satu kalimat penuh arti yang menjelaskan semua
Tak perlu berbelit-belit untuk mengatakannya
Aku bahkan tak butuh konotasi, kiasan
Dan aku juga tidak membubuhi hiperbola
Semuanya karena aku, bukan kau
Perasaanku, bukan ketidak-pedulianmu
Kasihku, bukan salahmu
Karena ada saat dimana penantian harus menemui titik puncaknya
Kurasa, inilah saat itu
Saat kita berdua sama-sama tak peduli satu sama lain
Dan, terlebih
Karena mencintaimu adalah salah.
No comments:
Post a Comment