Hai, Neptunus
Sang Penguasa Laut
Yang entah ada di benua mana
Aku tidak mungkin menenggelamkan laptop ini
Hanya karena aku mengetik surat untukmu
Aku juga tidak mungkin mem-print post ini dan membuatnya jadi perahu
Tidak perlu, aku telah menulisnya
Aku tahu caraku melakukan ini berbeda
Aku tahu aku malah membeberkan keinginanku
Namun, apa salah?
Apa salah jika aku ingin dia mengerti apa yang ada di pikiranku tiap hari?
Sudah jauh lebih dari empat ratus dua puluh hari
Sejak aku pertama kali sadar
Bahwa aku
Mencintai dia
Padahal, saat pertama aku melihatnya
Aku tak sadar bahwa dia akan sepenting ini
Buatku
Aku masih terlalu polos untuk memahami
Aku bahagia tiap dia menatapku, Neptunus
Aku bahagia tiap dia tertawa dan tersenyum
Dan aku tidak bisa tertawa saat dia sedang sedih
Karena aku menyayanginya
Mungkin, dia disana, sedang memikirkan orang lain
Namun, aku di sini, tiap hari, tiap malam memikirkan dia
Aku di sini, tiap menit berusaha berpikir dalam ketidak pastian
Karena aku ragu, Neptunus, tentang perasaannya
Neptunus, bisakah kau jawab satu pertanyaanku?
Apakah dia memiliki perasaan yang sama terhadapku, Neptunus?
Aku menyayanginya, terlalu mencintainya
Dan, aku tak sanggup untuk kehilangan seorang dia
Aku pernah, berusaha pergi
Berusaha menghapus perasaanku terhadapnya
Berusaha melunturkan keyakinanku padanya
Berusaha untuk berhenti dari penantian ini
Itu bahkan tak sampai tiga puluh dua jam
Dan aku tersiksa
Untuk berhenti menatapnya
Untuk membohongi perasaanku sendiri
Saat itu, adalah sebuah waktu kelam
Yang tak bisa kulewati
Aku ternyata terlalu menyayangi dia
Sehingga, sangat sulit untuk melepaskannya
Bahkan, sampai sekarang
Aku tidak bisa, tidak mau, dan tidak akan melepaskannya
Karena, Neptunus, ada sesuatu
Yang menahanku ketika aku melangkah menjauh
Neptunus, jika kau bertemu Cinta
Bisakah kau bilang aku ingin menjadi milik seorang dia?
Bisakah kau minta Cinta untuk menjadikan dia milikku?
Aku berharap
Neptunus, jangan lunturkan tintaku dalam menulis pesan ini
Jangan hancurkan perahu kertas harapanku
Karena di dalamnya ada harapan
Yang tersimpan dalam hati
Dia mungkin tahu perasaanku
Tapi, apa dia paham?
Dia mungkin tahu posisiku
Tapi, apa dia mengerti?
Neptunus, aku yakin dia bukan seperti yang lain
Aku ingin disayangi oleh orang yang kusayangi juga
Selain orangtua dan keluargaku
Karena aku butuh dia
Aku butuh dia di sampingku
Meyakinkanku bahwa aku masih memilikinya
Walau dunia sedang buruk untukku
Saat aku meragukan diriku
Aku ingin dia di sampingku
Menghentikan kesedihanku
Menghapus air mataku juga, mungkin?
Saat dunia ini menjatuhkanku
Aku butuh dia
Di sampingku
Untuk meyakinkanku
Segalanya akan baik-baik saja
Neptunus, aku mencintainya
Bisakah kau bilang padanya?
Bisakah kau sampaikan isi surat ini?
Apa aku akan memilikinya?
Neptunus, aku sudah tidak tahu
Harus apa lagi
Aku sendiri bingung
Untuk apa yang kulakukan untuk menyadarkannya
Neptunus, aku sayang dia
Apa dia sayang aku?
-Seorang gadis yang duduk diam saat yang lainnya berteriak kesal pada dunia, karena dia tahu dunia tidak berakhir karena roda memutarnya ke bawah. Karena, dia yakin roda kehidupan akan memutarnya ke atas lagi.
Sang Penguasa Laut
Yang entah ada di benua mana
Aku tidak mungkin menenggelamkan laptop ini
Hanya karena aku mengetik surat untukmu
Aku juga tidak mungkin mem-print post ini dan membuatnya jadi perahu
Tidak perlu, aku telah menulisnya
Aku tahu caraku melakukan ini berbeda
Aku tahu aku malah membeberkan keinginanku
Namun, apa salah?
Apa salah jika aku ingin dia mengerti apa yang ada di pikiranku tiap hari?
Sudah jauh lebih dari empat ratus dua puluh hari
Sejak aku pertama kali sadar
Bahwa aku
Mencintai dia
Padahal, saat pertama aku melihatnya
Aku tak sadar bahwa dia akan sepenting ini
Buatku
Aku masih terlalu polos untuk memahami
Aku bahagia tiap dia menatapku, Neptunus
Aku bahagia tiap dia tertawa dan tersenyum
Dan aku tidak bisa tertawa saat dia sedang sedih
Karena aku menyayanginya
Mungkin, dia disana, sedang memikirkan orang lain
Namun, aku di sini, tiap hari, tiap malam memikirkan dia
Aku di sini, tiap menit berusaha berpikir dalam ketidak pastian
Karena aku ragu, Neptunus, tentang perasaannya
Neptunus, bisakah kau jawab satu pertanyaanku?
Apakah dia memiliki perasaan yang sama terhadapku, Neptunus?
Aku menyayanginya, terlalu mencintainya
Dan, aku tak sanggup untuk kehilangan seorang dia
Aku pernah, berusaha pergi
Berusaha menghapus perasaanku terhadapnya
Berusaha melunturkan keyakinanku padanya
Berusaha untuk berhenti dari penantian ini
Itu bahkan tak sampai tiga puluh dua jam
Dan aku tersiksa
Untuk berhenti menatapnya
Untuk membohongi perasaanku sendiri
Saat itu, adalah sebuah waktu kelam
Yang tak bisa kulewati
Aku ternyata terlalu menyayangi dia
Sehingga, sangat sulit untuk melepaskannya
Bahkan, sampai sekarang
Aku tidak bisa, tidak mau, dan tidak akan melepaskannya
Karena, Neptunus, ada sesuatu
Yang menahanku ketika aku melangkah menjauh
Neptunus, jika kau bertemu Cinta
Bisakah kau bilang aku ingin menjadi milik seorang dia?
Bisakah kau minta Cinta untuk menjadikan dia milikku?
Aku berharap
Neptunus, jangan lunturkan tintaku dalam menulis pesan ini
Jangan hancurkan perahu kertas harapanku
Karena di dalamnya ada harapan
Yang tersimpan dalam hati
Dia mungkin tahu perasaanku
Tapi, apa dia paham?
Dia mungkin tahu posisiku
Tapi, apa dia mengerti?
Neptunus, aku yakin dia bukan seperti yang lain
Aku ingin disayangi oleh orang yang kusayangi juga
Selain orangtua dan keluargaku
Karena aku butuh dia
Aku butuh dia di sampingku
Meyakinkanku bahwa aku masih memilikinya
Walau dunia sedang buruk untukku
Saat aku meragukan diriku
Aku ingin dia di sampingku
Menghentikan kesedihanku
Menghapus air mataku juga, mungkin?
Saat dunia ini menjatuhkanku
Aku butuh dia
Di sampingku
Untuk meyakinkanku
Segalanya akan baik-baik saja
Neptunus, aku mencintainya
Bisakah kau bilang padanya?
Bisakah kau sampaikan isi surat ini?
Apa aku akan memilikinya?
Neptunus, aku sudah tidak tahu
Harus apa lagi
Aku sendiri bingung
Untuk apa yang kulakukan untuk menyadarkannya
Neptunus, aku sayang dia
Apa dia sayang aku?
-Seorang gadis yang duduk diam saat yang lainnya berteriak kesal pada dunia, karena dia tahu dunia tidak berakhir karena roda memutarnya ke bawah. Karena, dia yakin roda kehidupan akan memutarnya ke atas lagi.
No comments:
Post a Comment