August 28, 2012

Seribu Pesawat Part VIII

Hello, guys, sorry for waiting like years D:
And here it is, eight part ;)
Please comment.

Oh, and if you've never ever read the whole story it's better to check it out here before read this chapter.

()
 Aku putus asa. Sudah sangat lama aku tak percaya tentang mencintai, dan sekarang setelah aku belajar untuk mencintai, inikah yang aku dapatkan?
Aku menumpuk partitur-partitur yang sudah lama, kemudian menarik malas sebuah buku bersampul tebal, kertasnya usang. Milik Ibu sewaktu beliau masih seumurku, buku berisi tulisan tangannya tentang kehidupan dan yang telah dialaminya. Ibu memberikanku buku ini setelah menemukannya di gudang, tersimpan bersama majalah-majalah tua di dalam almari. Aku ingat saat itu beliau bilang,”Mungkin Ibu bukanlah penyair terbaik, namun, Ibu menulis apa yang ada dalam pikiran Ibu.”
Aku membuka halaman pertama, nama Ibu dan kalimat,”Aku tahu mungkin bagimu tidak nyata, tapi, inilah gagasanku.” Aku membuka pelan halaman-halaman selanjutnya, pikiran-pikiran Ibu yang sangat bagus, sangat kusetujui, hingga aku membuka satu halaman.
Aku hanyalah aku yang rapuh hingga kau datang dan menguatkanku.
Aku hanya penghancur momen berharga, namun aku tak pernah menghancurkan cinta dalam hidupku.
Aku, disini, termenung memikirkanmu, untuk satu hal.
Aku, duduk disini tanpa kejelasan.
Aku, disini, memikirkanmu, menginginkanmu.
Dan, kau barangkali disana meragukan perasaanku dengan sangat jelas.


Ibu, apa Ibu menulisnya untukku?
()
Dera datang dengan semangkuk sup duduk di sampingku yang sedang menonton Once Upon A Time. Hari Sabtu yang berjalan seperti biasa, Dera dan aku, di rumah dengan kegiatan kami, makan-tidur-makan-tidur. Sejak sehabis mandi, aku sudah ada di depan TV, membawa ponselku serta mangkuk sup, yang sekarang sudah kosong di meja sampingku.
“Hei, kau bilang kau bakal menjawab pertanyaanku kalau sudah beberapa hari setelahnya.” Kata Dera.
“Pertanyaan apa?”
“Jangan pura-pura lupa, Jane.” Balasnya. “Kau bilang pada Dave kau tidak mencintainya? Ada apa?”
Aku terdiam, merutuki diri kenapa aku tidak mengunci diri di dalam kamar saja. Menyembunyikan perasaanku sendiri, membohonginya, bahkan aku tidak mau cerita pada Dera yang merupakan sahabatku sendiri.
“Jane, percaya padaku. Ceritakanlah sesuatu tentang itu, karena aku belum percaya kau mengatakannya.”
“Aku mencintainya,” sergahku. “Aku mencintai Dave.”
“Lantas, mengapa tidak kau akui saja pada Dave? Ya, aku tahu itu sulit namun Dave sudah memudahkannya, kau hanya harus bilang iya.”
“Iya? Bagaimana dengan Dave? Bukankah dia tidak mencintaiku?” tukasku.
Dera memberi tatapan tidak percaya,”Jane! Sejak kapan kau jadi putus asa begini?”
“Aku sudah tahu, Dera. Dave..mencintai Chloe, bukan aku.”
“McCartney?” tebaknya. “Kau bercanda. Dave jelas-jelas menyukaimu!”
“Aku sudah jelas melihat buktinya!” seruku. “Aku membacanya.”
Dera member sinyal ceritakan-padaku-dengan-singkat-dan-jelas, dan aku melakukannya. Dera berusaha meyakinkanku bahwa itu tak mungkin terjadi, tapi, aku sudah membacanya, dan jelas itu foto Chloe dari samping, dengan rambut pirangnya yang tergerai.
Kulihat layar ponselku yang sedari tadi membunyikan dering. Dave meneleponku sejak tadi, yang juga tak pernah kuangkat. Aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk mengangkat telepon, berbicara, ataupun bangun dari sofa dan memencet “Answer”.
Dera meraih ponselku dengan cepat, menempelkannya di telinga.”Hei, Dave, kau mau apa?”
Aku membiarkannya, lalu mulai mengganti channel TV. Sebenarnya aku tidak benar-benar menontonnya, hanya mengatasi kebosanan, jadi aku memindah-mindah channel, entah dari HBO ke ABC atau Disney Channelyang sedang menayangkan Phineas and Ferb Marathon.
Tiba-tiba Dera mengulurkan tangannya, mengembalikan ponsel yang ternyata belum di-end call. “Dave mau bicara padamu. Kau mau aku bicara dan memberitahumu
“Yah, yang itu.” Potongku.
Aku sudah bilang tentang mood-ku?
Oh, oke, oke. Kalian pasti tidak ingin aku membahasnya―sudah berapa kali aku membahas tentang mood?
Lupakan.
Dera baru saja menutup telepon dan menatapku dengan aku-serius-tentang-percakapan-ini-dan-jangan-keluarkan-sifat-gilamu. Aku menyilangkan tangan di dada, membalas tatapannya dengan,”Ada apa lagi?”
Dera berdecak pelan,”Dave ingin menemuimu dan bertanya…”
“Bertanya apa?”
“Segalanya,” jawabnya cepat. “Yang menjadi kabur baginya dan kabur bagiku juga, Jane.”
“Masih menunggu inti yang harus kulakukan…?” kataku sok bodoh, sejujurnya aku menunggunya menjelaskan.
“Jane,” Dera kembali duduk di sampingku, duduk menghadapku. “Mungkin kau telah salah menebak perasaan Dave,”
“Apa maksudmu? Jelas-jelas aku melihat buktinya, Deer. Seandainya kau lihat juga, kau bakal tidak percaya pada perasaan Dave padaku juga!”
“Aku tahu kau melihat buktinya, J. Tapi, apa kau sudah memberikan cukup waktu bagi Dave untuk menjelaskan? Apa kau sudah member ruang untuknya untuk mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya? Tidak hanya berkata tidak dan pergi menyimpan luka lagi, kau tidak bisa melakukan itu lagi.”
Aku terdiam.
“Dave khawatir kau salah mengartikan segalanya―”
“―ya, aku salah.” potongku cepat.
“Dengarkan aku, J. Mungkin aku tak pernbah mengalami apa yang kau alami, namun jelas-jelas aku bisa merasakan sedikit keputus-asaan dalam suaramu, namun aku tahu dalam binar sendu matamu, ada setitik harapan yang terlihat. Dan, aku jelas tahu bahwa kau menyimpan jutaan harapan tentang dia dalam hatimu, meski kau tak tahu bagaimana mengungkapnya.”
“Kau benar,” sergahku, mencoba mencegah air mata dengan senyum, namun, sia-sia. “Tapi, apa yang harus kulakukan?”
“Biarkan dia bicara. Aku tahu tentang kau yang cepat panik, khawatir, cemas akan segala yang akan terjadi, tetapi percayalah. Akan selalu ada aku untukmu, akan selalu ada pundakku untukmu bersandar, akan selalu ada aku yang mendengarkanmu terisak sampai larut dan tidur karena kelelahan menangis, aka nada aku yang seperti itu.”
“Selamanya?” ucapku, agak tersendat.
Selamanya.
()
Aku bangun dengan kecelakaan kecil―yaitu tak sengaja terbentur meja samping kasur ketika akan jatuh. Dan, oke, itu aneh sekali. Dan, oke, itu sakit. Hanya tergores sedikit di pelipisku namun aku segera bersiap sebelum Dera menggedor pintuku lagi seperti kemarin dan menyebabkan aku kaget-setengah-mati.
Oh, ya, dan asal kau tahu semalam aku tidak menangis. Hanya ada air mata yang tertahan. Aku masih cukup kuat, aku tidak akan menangis hanya karena saat seperti ini, karena aku tahu mungkin saja aku akan mengalami yang terburuk―semoga saja tidak.
“JANETTE! KAU SUDAH MANDI BELUM?”
O-oh. Dan sebelum D sempat mencapai pintu kamarku untuk digedor, aku segera melesat memasuki kamar mandi.

Aljabar tak pernah susah jika kau mengerjakannya dengan semangat atau mood―OKE, aku tahu kau sebal aku mengungkit mood terus menerus, namun aku benar-benar mengalami kelabilan mood tanpa alasan. Sebelum semua variable dan constant mulai memakan ujung pensilku, aku membereskannya dan memutuskan untuk segera menyusul Dera ke kantin.
“Akhirnya, kau datang!” seru Dera saat aku menaruh tangan di atas mejanya.
“Ya, aku tidak bersemangat untuk belajar apapun hari ini, bisa kita lari keliling sekolah agar aku pingsan dan pulang saja?” candaku.
Dera tertawa,”Kau mau makan? Aku baru saja memesan sandwhich,”
“Tidak, aku sedang diet―tidak, bercanda. Aku cuma mau beli minum,” kataku sambil berjalan ke counter minuman.
“DEER!” teriak seseorang―oh, tidak jangan katakan itu Adam.
Aku membawa lemon tea-ku ke meja dan duduk di samping Dera yang menengok ke Adam sambil memberikan tatapan berhenti-panggil-aku-dengan-nama-itu-atau-kubunuh-kau―yang sebenarnya malah membuatku ingin tertawa. Dave agak tertinggal di belakang Adam, membawa beberapa buku sekaligus alat-alat tulisnya hampir jatuh, namun dia sempat menengok dan tersenyum pada kami.
“Butuh apa untuk menghentikanmu memanggilku dengan sebutan ‘Deer’?” tanya Dera.
Adam terkikik,”Butuh bertahun-tahun, atau mungkin aku bakal memanggilmu begitu selamanya.”
Dave meletakkan bukunya di meja, memperlihatkan deretan aljabar. “Guru, kau bisa mengajariku nggak? Aku kehilangan buku PR-ku dan aku harus mengerjakan soal aljabar sebanyak satu juta.”
“Oke, dia berlebihan. Hanya seratus.” sangkal Adam cepat.
Dera cepat-cepat menjawab,”Tentu saja gurumu ini mau. Apa, sih, yang nggak buatmu?”
Dan aku percaya, mukaku pasti lebih merah dibanding sebelumnya, sampai kuputuskan untuk duduk di depan Dave dan menarik buku dan salah satu pensil.
Dave, apa kau dengar aku berbisik dibalik penjelasanku ini?
Bisikan murni dari hatiku
Yang mungkin menangis karena aku tak sanggup mengatakan langsung
Apa kau paham perasaanku?
Sebenarnya, aku ingin tahu apa kau mencintaiku atau Chloe?
Karena satu pertanyaan itu menimbulkan jutaan pertanyaan misterius dalam benakku
Bagaimana, bahkan lebih banyak daripada soal aljabar-mu, ‘kan?
Dave, aku mencintaimu
Dave.
()

I promise to post the next chapter at least next week because I really get many inspirations :) xo
Thanks for reading!

No comments:

Post a Comment