Hello, guys, sorry for waiting like years D:
And here it is, eight part ;)
Please comment.
Oh, and if you've never ever read the whole story it's better to check it out here before read this chapter.
And here it is, eight part ;)
Please comment.
Oh, and if you've never ever read the whole story it's better to check it out here before read this chapter.
()
Aku putus asa. Sudah sangat lama aku tak
percaya tentang mencintai, dan sekarang setelah aku belajar untuk mencintai,
inikah yang aku dapatkan?
Aku menumpuk partitur-partitur
yang sudah lama, kemudian menarik malas sebuah buku bersampul tebal, kertasnya
usang. Milik Ibu sewaktu beliau masih seumurku, buku berisi tulisan tangannya
tentang kehidupan dan yang telah dialaminya. Ibu memberikanku buku ini setelah
menemukannya di gudang, tersimpan bersama majalah-majalah tua di dalam almari.
Aku ingat saat itu beliau bilang,”Mungkin Ibu bukanlah penyair terbaik, namun,
Ibu menulis apa yang ada dalam pikiran Ibu.”
Aku membuka halaman pertama, nama
Ibu dan kalimat,”Aku tahu mungkin bagimu tidak nyata, tapi, inilah gagasanku.”
Aku membuka pelan halaman-halaman selanjutnya, pikiran-pikiran Ibu yang sangat
bagus, sangat kusetujui, hingga aku membuka satu halaman.
Aku hanyalah aku yang rapuh hingga kau datang dan menguatkanku.
Aku hanya penghancur momen berharga, namun aku tak pernah
menghancurkan cinta dalam hidupku.
Aku, disini, termenung memikirkanmu, untuk satu hal.
Aku, duduk disini tanpa kejelasan.
Aku, disini, memikirkanmu, menginginkanmu.
Dan, kau barangkali disana meragukan perasaanku dengan sangat
jelas.
Ibu, apa Ibu menulisnya untukku?
()
Dera datang dengan semangkuk sup
duduk di sampingku yang sedang menonton Once Upon A Time. Hari Sabtu yang
berjalan seperti biasa, Dera dan aku, di rumah dengan kegiatan kami,
makan-tidur-makan-tidur. Sejak sehabis mandi, aku sudah ada di depan TV,
membawa ponselku serta mangkuk sup, yang sekarang sudah kosong di meja
sampingku.
“Hei, kau bilang kau bakal
menjawab pertanyaanku kalau sudah beberapa hari setelahnya.” Kata Dera.
“Pertanyaan apa?”
“Jangan pura-pura lupa, Jane.”
Balasnya. “Kau bilang pada Dave kau tidak mencintainya? Ada apa?”
Aku terdiam, merutuki diri kenapa
aku tidak mengunci diri di dalam kamar saja. Menyembunyikan perasaanku sendiri,
membohonginya, bahkan aku tidak mau cerita pada Dera yang merupakan sahabatku
sendiri.
“Jane, percaya padaku.
Ceritakanlah sesuatu tentang itu, karena aku belum percaya kau mengatakannya.”
“Aku mencintainya,” sergahku. “Aku
mencintai Dave.”
“Lantas, mengapa tidak kau akui
saja pada Dave? Ya, aku tahu itu sulit namun Dave sudah memudahkannya, kau
hanya harus bilang iya.”
“Iya? Bagaimana dengan Dave?
Bukankah dia tidak mencintaiku?” tukasku.
Dera memberi tatapan tidak
percaya,”Jane! Sejak kapan kau jadi putus asa begini?”
“Aku sudah tahu, Dera.
Dave..mencintai Chloe, bukan aku.”
“McCartney?” tebaknya. “Kau
bercanda. Dave jelas-jelas menyukaimu!”
“Aku sudah jelas melihat
buktinya!” seruku. “Aku membacanya.”
Dera member sinyal
ceritakan-padaku-dengan-singkat-dan-jelas, dan aku melakukannya. Dera berusaha
meyakinkanku bahwa itu tak mungkin terjadi, tapi, aku sudah membacanya, dan
jelas itu foto Chloe dari samping, dengan rambut pirangnya yang tergerai.
Kulihat layar ponselku yang sedari
tadi membunyikan dering. Dave meneleponku sejak tadi, yang juga tak pernah
kuangkat. Aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk mengangkat telepon,
berbicara, ataupun bangun dari sofa dan memencet “Answer”.
Dera meraih ponselku dengan cepat,
menempelkannya di telinga.”Hei, Dave, kau mau apa?”
Aku membiarkannya, lalu mulai
mengganti channel TV. Sebenarnya aku tidak benar-benar menontonnya, hanya
mengatasi kebosanan, jadi aku memindah-mindah channel, entah dari HBO ke ABC
atau Disney Channel―yang sedang menayangkan Phineas and Ferb Marathon.
Tiba-tiba Dera mengulurkan
tangannya, mengembalikan ponsel yang ternyata belum di-end call. “Dave mau
bicara padamu. Kau mau aku bicara dan memberitahumu―”
“Yah,
yang itu.” Potongku.
Aku
sudah bilang tentang mood-ku?
Oh,
oke, oke. Kalian pasti tidak ingin aku membahasnya―sudah berapa kali aku
membahas tentang mood?
Lupakan.
Dera
baru saja menutup telepon dan menatapku dengan
aku-serius-tentang-percakapan-ini-dan-jangan-keluarkan-sifat-gilamu. Aku
menyilangkan tangan di dada, membalas tatapannya dengan,”Ada apa lagi?”
Dera
berdecak pelan,”Dave ingin menemuimu dan bertanya…”
“Bertanya
apa?”
“Segalanya,”
jawabnya cepat. “Yang menjadi kabur baginya dan kabur bagiku juga, Jane.”
“Masih
menunggu inti yang harus kulakukan…?” kataku sok bodoh, sejujurnya aku
menunggunya menjelaskan.
“Jane,”
Dera kembali duduk di sampingku, duduk menghadapku. “Mungkin kau telah salah
menebak perasaan Dave,”
“Apa
maksudmu? Jelas-jelas aku melihat buktinya, Deer. Seandainya kau lihat juga,
kau bakal tidak percaya pada perasaan Dave padaku juga!”
“Aku
tahu kau melihat buktinya, J. Tapi, apa kau sudah memberikan cukup waktu bagi
Dave untuk menjelaskan? Apa kau sudah member ruang untuknya untuk mengetahui
perasaanmu yang sesungguhnya? Tidak hanya berkata tidak dan pergi menyimpan
luka lagi, kau tidak bisa melakukan itu lagi.”
Aku
terdiam.
“Dave
khawatir kau salah mengartikan segalanya―”
“―ya,
aku salah.” potongku cepat.
“Dengarkan
aku, J. Mungkin aku tak pernbah mengalami apa yang kau alami, namun jelas-jelas
aku bisa merasakan sedikit keputus-asaan dalam suaramu, namun aku tahu dalam
binar sendu matamu, ada setitik harapan yang terlihat. Dan, aku jelas tahu
bahwa kau menyimpan jutaan harapan tentang dia dalam hatimu, meski kau tak tahu
bagaimana mengungkapnya.”
“Kau
benar,” sergahku, mencoba mencegah air mata dengan senyum, namun, sia-sia.
“Tapi, apa yang harus kulakukan?”
“Biarkan
dia bicara. Aku tahu tentang kau yang cepat panik, khawatir, cemas akan segala
yang akan terjadi, tetapi percayalah. Akan selalu ada aku untukmu, akan selalu
ada pundakku untukmu bersandar, akan selalu ada aku yang mendengarkanmu terisak
sampai larut dan tidur karena kelelahan menangis, aka nada aku yang seperti
itu.”
“Selamanya?”
ucapku, agak tersendat.
“Selamanya.”
()
Aku
bangun dengan kecelakaan kecil―yaitu tak sengaja terbentur meja samping kasur
ketika akan jatuh. Dan, oke, itu aneh sekali. Dan, oke, itu sakit. Hanya tergores sedikit di
pelipisku namun aku segera bersiap sebelum Dera menggedor pintuku lagi seperti
kemarin dan menyebabkan aku kaget-setengah-mati.
Oh,
ya, dan asal kau tahu semalam aku tidak menangis. Hanya ada air mata yang
tertahan. Aku masih cukup kuat, aku tidak akan menangis hanya karena saat
seperti ini, karena aku tahu mungkin saja aku akan mengalami yang terburuk―semoga
saja tidak.
“JANETTE!
KAU SUDAH MANDI BELUM?”
O-oh.
Dan sebelum D sempat mencapai pintu kamarku untuk digedor, aku segera melesat
memasuki kamar mandi.
Aljabar
tak pernah susah jika kau mengerjakannya dengan semangat atau mood―OKE, aku tahu kau sebal aku
mengungkit mood terus menerus, namun
aku benar-benar mengalami kelabilan mood tanpa alasan. Sebelum semua variable
dan constant mulai memakan ujung pensilku, aku membereskannya dan memutuskan
untuk segera menyusul Dera ke kantin.
“Akhirnya,
kau datang!” seru Dera saat aku menaruh tangan di atas mejanya.
“Ya,
aku tidak bersemangat untuk belajar apapun hari ini, bisa kita lari keliling
sekolah agar aku pingsan dan pulang saja?” candaku.
Dera
tertawa,”Kau mau makan? Aku baru saja memesan sandwhich,”
“Tidak,
aku sedang diet―tidak, bercanda. Aku cuma mau beli minum,” kataku sambil
berjalan ke counter minuman.
“DEER!”
teriak seseorang―oh, tidak jangan katakan itu Adam.
Aku
membawa lemon tea-ku ke meja dan duduk di samping Dera yang menengok ke Adam
sambil memberikan tatapan berhenti-panggil-aku-dengan-nama-itu-atau-kubunuh-kau―yang
sebenarnya malah membuatku ingin tertawa. Dave agak tertinggal di belakang
Adam, membawa beberapa buku sekaligus alat-alat tulisnya hampir jatuh, namun
dia sempat menengok dan tersenyum pada kami.
“Butuh
apa untuk menghentikanmu memanggilku dengan sebutan ‘Deer’?” tanya Dera.
Adam
terkikik,”Butuh bertahun-tahun, atau mungkin aku bakal memanggilmu begitu selamanya.”
Dave
meletakkan bukunya di meja, memperlihatkan deretan aljabar. “Guru, kau bisa
mengajariku nggak? Aku kehilangan buku PR-ku dan aku harus mengerjakan soal
aljabar sebanyak satu juta.”
“Oke,
dia berlebihan. Hanya seratus.” sangkal Adam cepat.
Dera
cepat-cepat menjawab,”Tentu saja gurumu ini mau. Apa, sih, yang nggak buatmu?”
Dan
aku percaya, mukaku pasti lebih merah dibanding sebelumnya, sampai kuputuskan
untuk duduk di depan Dave dan menarik buku dan salah satu pensil.
Dave, apa kau dengar aku berbisik
dibalik penjelasanku ini?
Bisikan murni dari hatiku
Yang mungkin menangis karena aku tak
sanggup mengatakan langsung
Apa kau paham perasaanku?
Sebenarnya, aku ingin tahu apa kau
mencintaiku atau Chloe?
Karena satu pertanyaan itu
menimbulkan jutaan pertanyaan misterius dalam benakku
Bagaimana, bahkan lebih banyak
daripada soal aljabar-mu, ‘kan?
Dave, aku mencintaimu
Dave.
()
I promise to post the next chapter at least next week because I really get many inspirations :) xo
Thanks for reading!
No comments:
Post a Comment