July 24, 2012

Seribu Pesawat Part VII


Sorry guys, I couldn't post it on time because of my internet connection is so annoying._. 


If you didn't read from the first, you'd better check this.
Bullying article, help my campaign with read it here and click this! Thanks.

Here it is the part which will makes your heart beats faster !

()
            Dera sedang menyantap Caesar Salad-nya di sofa saat otakku memutar ulang kejadian kemarin. Dave. Apakah Dera harus mengetahui ini? Aku ingin bertanya padanya bagaimana cara menyikapi ini namun aku terlalu malu untuk menceritakannya.
            “Hei, kudengar kau dan Dave ke studio musik kemarin?” tanya Dera tiba-tiba.
            Sial, kenapa dia harus tahu? sergahku dalam hati.
            “Kau duet lagi dengannya atau mengobrol sesuatu atau apalah?” desak Dera.
            “Oke,” balasku. “Aku main piano dan Dave memainkan gitar tapi dengar, kami kemarin nggak duet atau semacamnya.”

            Dan setelah aku menjelaskan semuanya, tak terkecuali, juga bagian ‘Seperti kau,’ apa kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?
            Rumahku hampir hancur karena teriakan Dera yang terkejut lalu diikuti tawanya. Dera tak bisa berhenti menyerukan kalimat-kalimat dia-suka-kau atau aku-senang-sekali. Setidaknya dia tidak menyerukan hal seperti aku-gila-sekali.
()

 
            Dave sedang menumpuk beberapa bukunya di meja. Aku membantunya memasukkan barang-barang ke dalam tasnya, kami akan ke studio musik lagi. Dera dan Adam menunggu kami disana, sudah rutinitas kami berempat kini.
            Dave memasukkan beberapa buku dengan berantakan ke dalam tas, terlihat frustasi karena ulangan Fisika yang katanya tak ada satupun soal yang dia pahami karena tidur lebih awal. Rambut cokelatnya agak berantakan.
            “Hei, jangan memandangku seperti itu.” Aku tersentak saat Dave bilang begitu. Masalahnya, aku memang sedang memandanginya.
            Aku memaksakan tawa kecil sebelum bilang, “Tidak ada apa-apa. Sudah semua?”
            “Kurasa aku meninggalkan semua buku Matematika-ku di loker,” katanya.
            “Serius? Tak pernah kau bawa?” balasku.
            “Aku ‘kan tidak seperti kau yang pintar Matematika, Janette. Kau tahu aku payah dalam hal itu. Dan ada PR yang dikumpul besok, jadi, sepertinya kau harus angkat teleponku malam ini, mengajariku.”
            “Mengapa tak kau kerjakan di studio musik? Atau kita bisa mengerjakannya di perpustakaan?” ajakku daripada dia meneleponku saat Dera sedang berteriak-teriak menonton film.
            “Aku tak ingin mengganggu momen-momen di studio musik,” katanya. “Dan pulang sekolah? Kau tak bisa tetap di sekolah hanya untuk membantuku, lagipula, aku yang akan meneleponmu, tenang saja.”
            Aku mengangguk dan tersenyum penuh arti. Pernahkah kau sebahagia dan sedekat ini dengan orang yang kau cintai? Aku bahkan tak bisa melukiskan semua ini, tentang cinta, dengan kata-kata. Tampaknya semua bahasa kekurangan kata untuk menggambarkan perasaanku kini.
            Tiba-tiba ada lembar-lembar kertas kecil terjatuh dari salah satu buku. Kertas-kertas itu dijepit, dan aku kenal kertas itu adalah kertas foto dan bagian paling belakang, tertulis…
Janette.
()
Bagaimana perasaanmu jika orang yang kau cintai menuliskan memori tentangmu pada lembar kertas?
Bagaimana perasaanmu jika namamu tercetak tinta pena diatas putihnya kertas miliknya?
Kau pikir aku senang?
Tidak, kau salah. Aku tidak senang, karena lembar-lembar sebelum namaku tertulis adalah lembar-lembar yang menghancurkan. Yang membuatku merasa bukan apa-apa lagi, merasa seperti debu dan tak berharga untuk siapapun untuk dimiliki.
Semuanya terkuak ketika hampir semenit aku menggenggam tumpukan lembar kertas itu, Dave dipanggil oleh tim basket untuk pemberitahuan tentang latihan pertandingan. Aku membukanya dengan hati berdebar. Aku mulai melihat foto dan membaca tulisan di belakangnya. Awalnya baik-baik saja mungkin, hanya gitar-gitar milik Dave, Adam, seorang cowok yang tidak kukenal, barang-barang warna biru, tapi dua lembar terakhir mengejutkan. Chloe. Ya, satu lembar adalah foto Chloe, seorang bintang sempurna, ikon kebanggaan sekolah. Satunya, kosong, namun dibaliknya tertulis namaku dan tulisan, “Apa kau tahu tentang hal ini? Jika kau tahu, apa kau takkan meninggalkanku?”
Kubaca tulisan di lembar foto Chloe, tertulis agak tebal dan menekan.
Mungkin memang hanya dia. Tak ada yang bisa menyamainya. Harusnya aku tahu sedari awal untuk menyatakannya. Namun, aku bahkan tak bisa mendefinisikan perasaanku padanya. Lagipula, apa aku cukup berani? Bukankah aku hanya seorang penyimpan perasaan yang tak bisa apa-apa ketika mencintai?”
Aku segera menata ulang lembar-lembar itu, berusaha membuatnya berurutan, segera kukembalikan ke dalam tas Dave dan berdiri, berjalan pergi dan pulang bahkan sebelum ke studio musik.
Karena aku tak mungkin menangis karena ini dan bilang, “Aku baik-baik saja,” di depan Dave. Mungkin aku hebat dalam memalsukan diri, namun aku tak pernah baik dalam menyembunyikan perasaanku.
Mungkin terdengan berlebihan, namun, aku hancur.
Aku hancur saat tahu Dave menyukai Chloe.
Dan, aku salah. Aku sangat salah untuk merubah persepsi tentang cinta. Bagaimana bisa aku sebodoh ini mengulang kesalahan yang sama tentang cinta? Membiarkannya menerpaku hingga jatuh dan meninggalkanku terluka?
I’m breaking.
()
“Jane?”  Suara Dera. Dia pasti akan bertanya kenapa aku tidak ke studio musik dan pergi begitu saja. Namun, aku jelas punya alasan.
“Janette Aishling! Kau dimana?” tanyanya.
“Right up here,” jawabku. Kurasa aku bicara dalam keadaan suara agak bergetar hingga Dera menatapku aneh lalu melakukan atraksi semacam lari-super-cepat-dan-melempar-tas, beruntung dia tidak akan berubah semacam Superman atau apalah.
“Jelas ada sesuatu dan aku tahu itu,” kata Dera. “Ada apa? Apa Theo
“Bukan,” potongku. Dera jelas ingin menanyakan apa Theo kembali.

Ingat, Jane, Theo-lah yang membuatmu terpuruk, pura-pura percaya padamu dan malah berbuat hal yang sama, merendahkanmu.

“Lalu?”
“Dera,” aku tercekat. “Mungkin aku telah salah lagi,”
“Salah apa? Kau melakukan apa?”
“Aku salah untuk mencintai Dave.” Kataku pahit.
“Hei, hei, darimana kau tahu? Jelas-jelas dia kelihatan menyukaimu!”
“Kau yakin dia tidak menyukai Chloe?”
“Mengapa Oke, ceritakan padaku,”
Dan mungkin cinta baru saja membuatku terlalu rapuh untuk menahan bukan bertahan. Aku terlalu rapuh untuk menahan kesedihan yang menyesakkan dadaku, suaraku bergetar, tapi aku menghindar dari tangis.
Setidaknya, berusaha.
()
Cinta,
Jika aku memang bukan ditakdirkan untuk memilikinya,
Lantas untuk apa kau kenalkan aku dalam dunianya?
Jika aku tak pantas dapatkan dia,
Lalu untuk apa kau buat dia membiarkanku menggenggam harapan kosong?
Cinta,
Apa aku terlalu buruk sehingga tak pantas dicintai?
Apa aku takkan pernah dicintai oleh orang yang kucintai?
Lalu mengapa kau buat aku jatuh cinta?
Untuk apa?
Cinta,
Jika aku terlalu mencintainya,
Apa aku harus melepasnya bersama orang lain?
Apa aku harus menerimanya?
Apa kau tidak mendengar jeritan takutku?
Takut untuk kehilangan dia,
Cinta,
Berikanlah aku kesempatan untuk dicintai,
Aku lelah untuk selalu mencintai tanpa dicintai,
Menyayangi tanpa disayangi,
Dan menghargai tanpa dihargai,
Namun, tolonglah
Tahukan kau betapa takutnya aku untuk kehilangan dia dari sisiku, Cinta?
Oh, barangkali kau terlalu sibuk untuk mengurusi debu sepertiku, hanya partikel tak berguna.
()
Aku sedang berjalan ke kelas saat mendengar keributan kecil di dekat taman sekolah. Dan telingaku sempat menangkap suara familiar yang membuatku penasaran. Aku menempelkan punggung di dinding, mendekatkan telinga ke sumber suara.
“…apa kau tahu bahwa dia mencintaimu?”
“Apa?”
“Jangan pura-pura bodoh! Dia mencintaimu, Dave! Dan kau hanya menyia-nyiakan dia! Kau bilang dia berbeda! Untuk apa semua itu? Untuk apa kau mendekati sahabatku?”
“Dengar, bukan begitu maksudku. Aku atk pernah bermaksud untuk
“Cukup dengan kata-kata, Dave. Buktikan kalau kau peduli. Adam bilang kau suka dia, tapi mengapa dia malah bilang padaku bahwa kau mencintai orang lain? Tahukah kau betapa hancurnya dia saat dia tahu dia hanya termakan harapanmu?”
“Tunggu, DeraApa tadi? Aku apa?
“Jangan pura-pura,”
Aku tahu percakapan itu mengarah kemana. Dan aku tahu harusnya aku mengarah kemana saat Dera tiba-tiba muncul di hadapanku dengan wajah terkejut. Namun pikiranku buyar seketika, bingung, membuatku terdiam.
“J? Kau… tadi dengar?” tanyanya terbata-bata.
“Sedikit,”
Seorang yang ingin kutemui sekaligus tidak ingin kuajak bicara adalah…Dave. Dia datang dan bertanya, “Apa kau mencintaiku seperti yang Dera bilang?”
Aku gugup, panik, bingung. Aku memutuskan untuk melakukan hal palig berat yang pernah kulakukan, hal terbodoh yang pernah dilakukan dan mungkin hanya aku yang melakukannya.
“Tidak, dari mana kau tahu?” jawabku.
Aku berusaha menahan suaraku agar tidak bergetar, aku berbalik. And, a tear just fell streaming down my face.
Mungkin, cinta bukan tentang memiliki. Cinta adalah menyayangi tanpa imbalan, meskipun tidak bisa memiliki. Aku memutuskan untuk membiarkan Dave bahagia, walau akulah yang akan tersakiti. Akulah yang akan hancur karena itu.
Asal kau tahu, Dave. Aku masih sangat mencintaimu. Aku takkan bisa melepaskanmu. Namun, aku ingin kau bahagia meskipun bukan bersamaku. Biarkan hatiku hancur karenamu, biarkan air mataku jatuh karenamu, biarkan aku terpuruk lagi. Asal kau tidak.
Dan mungkin aku sudah gila karena cinta. Mungkin aku terlalu mengilhaminya, dan tak sadar bahwa aku terlalu berharap.
Aku pergi ke studio musik, memainkan lagu yang tak pernah kumainkan di studio ini, laguku sendiriIf I Can.
If I can be a girl like her, would you like to be with me?
If I can love you more than her, would you love me?
Because I’m breaking now, just knew about you and her
()

I really will post the part eight soon, I was working a half of it! :)
Thankyou!

No comments:

Post a Comment