Sorry guys, I couldn't post it on time because of my internet connection is so annoying._.
If you didn't read from the first, you'd better check this.
Here it is the part which will makes your heart beats faster !
()
Dera
sedang menyantap Caesar Salad-nya di sofa saat otakku memutar ulang kejadian
kemarin. Dave. Apakah Dera harus mengetahui ini? Aku ingin bertanya padanya
bagaimana cara menyikapi ini namun aku terlalu malu untuk menceritakannya.
“Hei,
kudengar kau dan Dave ke studio musik kemarin?” tanya Dera tiba-tiba.
Sial, kenapa dia harus tahu? sergahku
dalam hati.
“Kau duet
lagi dengannya atau mengobrol sesuatu atau apalah?” desak Dera.
“Oke,”
balasku. “Aku main piano dan Dave memainkan gitar tapi dengar, kami kemarin
nggak duet atau semacamnya.”
Dan
setelah aku menjelaskan semuanya, tak terkecuali, juga bagian ‘Seperti kau,’
apa kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?
Rumahku
hampir hancur karena teriakan Dera yang terkejut lalu diikuti tawanya. Dera tak
bisa berhenti menyerukan kalimat-kalimat dia-suka-kau atau aku-senang-sekali.
Setidaknya dia tidak menyerukan hal seperti aku-gila-sekali.
Dave
sedang menumpuk beberapa bukunya di meja. Aku membantunya memasukkan
barang-barang ke dalam tasnya, kami akan ke studio musik lagi. Dera dan Adam
menunggu kami disana, sudah rutinitas kami berempat kini.
Dave
memasukkan beberapa buku dengan berantakan ke dalam tas, terlihat frustasi
karena ulangan Fisika yang katanya tak ada satupun soal yang dia pahami karena
tidur lebih awal. Rambut cokelatnya agak berantakan.
“Hei,
jangan memandangku seperti itu.” Aku tersentak saat Dave bilang begitu.
Masalahnya, aku memang sedang memandanginya.
Aku
memaksakan tawa kecil sebelum bilang, “Tidak ada apa-apa. Sudah semua?”
“Kurasa
aku meninggalkan semua buku Matematika-ku di loker,” katanya.
“Serius?
Tak pernah kau bawa?” balasku.
“Aku ‘kan
tidak seperti kau yang pintar Matematika, Janette. Kau tahu aku payah dalam hal
itu. Dan ada PR yang dikumpul besok, jadi, sepertinya kau harus angkat
teleponku malam ini, mengajariku.”
“Mengapa
tak kau kerjakan di studio musik? Atau kita bisa mengerjakannya di perpustakaan?”
ajakku daripada dia meneleponku saat Dera sedang berteriak-teriak menonton
film.
“Aku tak
ingin mengganggu momen-momen di studio musik,” katanya. “Dan pulang sekolah?
Kau tak bisa tetap di sekolah hanya untuk membantuku, lagipula, aku yang akan
meneleponmu, tenang saja.”
Aku
mengangguk dan tersenyum penuh arti. Pernahkah kau sebahagia dan sedekat ini
dengan orang yang kau cintai? Aku bahkan tak bisa melukiskan semua ini, tentang
cinta, dengan kata-kata. Tampaknya semua bahasa kekurangan kata untuk
menggambarkan perasaanku kini.
Tiba-tiba
ada lembar-lembar kertas kecil terjatuh dari salah satu buku. Kertas-kertas itu
dijepit, dan aku kenal kertas itu adalah kertas foto dan bagian paling belakang,
tertulis…
Janette.
()
Bagaimana perasaanmu jika orang
yang kau cintai menuliskan memori tentangmu pada lembar kertas?
Bagaimana perasaanmu jika namamu
tercetak tinta pena diatas putihnya kertas miliknya?
Kau pikir aku senang?
Tidak, kau salah. Aku tidak
senang, karena lembar-lembar sebelum namaku tertulis adalah lembar-lembar yang
menghancurkan. Yang membuatku merasa bukan apa-apa lagi, merasa seperti debu
dan tak berharga untuk siapapun untuk dimiliki.
Semuanya terkuak ketika hampir
semenit aku menggenggam tumpukan lembar kertas itu, Dave dipanggil oleh tim
basket untuk pemberitahuan tentang latihan pertandingan. Aku membukanya dengan
hati berdebar. Aku mulai melihat foto dan membaca tulisan di belakangnya.
Awalnya baik-baik saja mungkin, hanya gitar-gitar milik Dave, Adam, seorang
cowok yang tidak kukenal, barang-barang warna biru, tapi dua lembar terakhir
mengejutkan. Chloe. Ya, satu lembar adalah foto Chloe, seorang bintang
sempurna, ikon kebanggaan sekolah. Satunya, kosong, namun dibaliknya tertulis namaku
dan tulisan, “Apa kau tahu tentang hal ini? Jika kau tahu, apa kau takkan
meninggalkanku?”
Kubaca tulisan di lembar foto
Chloe, tertulis agak tebal dan menekan.
Mungkin memang hanya dia. Tak ada yang bisa menyamainya. Harusnya
aku tahu sedari awal untuk menyatakannya. Namun, aku bahkan tak bisa
mendefinisikan perasaanku padanya. Lagipula, apa aku cukup berani? Bukankah aku
hanya seorang penyimpan perasaan yang tak bisa apa-apa ketika mencintai?”
Aku segera menata ulang
lembar-lembar itu, berusaha membuatnya berurutan, segera kukembalikan ke dalam
tas Dave dan berdiri, berjalan pergi dan pulang bahkan sebelum ke studio musik.
Karena aku tak mungkin menangis
karena ini dan bilang, “Aku baik-baik saja,” di depan Dave. Mungkin aku hebat
dalam memalsukan diri, namun aku tak pernah baik dalam menyembunyikan
perasaanku.
Mungkin terdengan berlebihan,
namun, aku hancur.
Aku hancur saat tahu Dave menyukai
Chloe.
Dan, aku salah. Aku sangat salah
untuk merubah persepsi tentang cinta. Bagaimana bisa aku sebodoh ini mengulang
kesalahan yang sama tentang cinta? Membiarkannya menerpaku hingga jatuh dan
meninggalkanku terluka?
I’m breaking.
()
“Jane?” Suara Dera. Dia pasti akan bertanya kenapa
aku tidak ke studio musik dan pergi begitu saja. Namun, aku jelas punya alasan.
“Janette Aishling! Kau dimana?”
tanyanya.
“Right up here,” jawabku. Kurasa
aku bicara dalam keadaan suara agak bergetar hingga Dera menatapku aneh lalu
melakukan atraksi semacam lari-super-cepat-dan-melempar-tas, beruntung dia
tidak akan berubah semacam Superman atau apalah.
“Jelas ada sesuatu dan aku tahu
itu,” kata Dera. “Ada apa? Apa Theo―”
“Bukan,” potongku. Dera jelas
ingin menanyakan apa Theo kembali.
Ingat, Jane, Theo-lah yang membuatmu terpuruk, pura-pura percaya
padamu dan malah berbuat hal yang sama, merendahkanmu.
“Lalu?”
“Dera,” aku tercekat. “Mungkin aku
telah salah lagi,”
“Salah apa? Kau melakukan apa?”
“Aku salah untuk mencintai Dave.” Kataku pahit.
“Hei, hei, darimana kau tahu?
Jelas-jelas dia kelihatan menyukaimu!”
“Kau yakin dia tidak menyukai
Chloe?”
“Mengapa― Oke, ceritakan padaku,”
Dan mungkin cinta baru saja
membuatku terlalu rapuh untuk menahan bukan bertahan. Aku terlalu rapuh untuk
menahan kesedihan yang menyesakkan dadaku, suaraku bergetar, tapi aku
menghindar dari tangis.
Setidaknya, berusaha.
()
Cinta,
Jika aku memang bukan ditakdirkan
untuk memilikinya,
Lantas untuk apa kau kenalkan aku
dalam dunianya?
Jika aku tak pantas dapatkan dia,
Lalu untuk apa kau buat dia
membiarkanku menggenggam harapan kosong?
Cinta,
Apa aku terlalu buruk sehingga tak
pantas dicintai?
Apa aku takkan pernah dicintai
oleh orang yang kucintai?
Lalu mengapa kau buat aku jatuh
cinta?
Untuk apa?
Cinta,
Jika aku terlalu mencintainya,
Apa aku harus melepasnya bersama
orang lain?
Apa aku harus menerimanya?
Apa kau tidak mendengar jeritan
takutku?
Takut untuk kehilangan dia,
Cinta,
Berikanlah aku kesempatan untuk
dicintai,
Aku lelah untuk selalu mencintai
tanpa dicintai,
Menyayangi tanpa disayangi,
Dan menghargai tanpa dihargai,
Namun, tolonglah
Tahukan kau betapa takutnya aku
untuk kehilangan dia dari sisiku, Cinta?
Oh, barangkali kau terlalu sibuk untuk
mengurusi debu sepertiku, hanya partikel tak berguna.
()
Aku sedang berjalan ke kelas saat
mendengar keributan kecil di dekat taman sekolah. Dan telingaku sempat
menangkap suara familiar yang membuatku penasaran. Aku menempelkan punggung di
dinding, mendekatkan telinga ke sumber suara.
“…apa kau tahu bahwa dia
mencintaimu?”
“Apa?”
“Jangan pura-pura bodoh! Dia
mencintaimu, Dave! Dan kau hanya menyia-nyiakan dia! Kau bilang dia berbeda!
Untuk apa semua itu? Untuk apa kau mendekati sahabatku?”
“Dengar, bukan begitu maksudku.
Aku atk pernah bermaksud untuk―”
“Cukup dengan kata-kata, Dave.
Buktikan kalau kau peduli. Adam bilang kau suka dia, tapi mengapa dia malah
bilang padaku bahwa kau mencintai orang lain? Tahukah kau betapa hancurnya dia
saat dia tahu dia hanya termakan harapanmu?”
“Tunggu, Dera―Apa tadi? Aku apa?”
“Jangan pura-pura,”
Aku tahu percakapan itu mengarah
kemana. Dan aku tahu harusnya aku mengarah kemana saat Dera tiba-tiba muncul di
hadapanku dengan wajah terkejut. Namun pikiranku buyar seketika, bingung,
membuatku terdiam.
“J? Kau… tadi dengar?” tanyanya
terbata-bata.
“Sedikit,”
Seorang yang ingin kutemui
sekaligus tidak ingin kuajak bicara adalah…Dave. Dia datang dan bertanya, “Apa
kau mencintaiku seperti yang Dera bilang?”
Aku gugup, panik, bingung. Aku
memutuskan untuk melakukan hal palig berat yang pernah kulakukan, hal terbodoh
yang pernah dilakukan dan mungkin hanya aku yang melakukannya.
“Tidak, dari mana kau tahu?”
jawabku.
Aku berusaha menahan suaraku agar
tidak bergetar, aku berbalik. And, a tear just fell streaming down my face.
Mungkin, cinta bukan tentang
memiliki. Cinta adalah menyayangi tanpa imbalan, meskipun tidak bisa memiliki.
Aku memutuskan untuk membiarkan Dave bahagia, walau akulah yang akan tersakiti.
Akulah yang akan hancur karena itu.
Asal kau tahu, Dave. Aku masih
sangat mencintaimu. Aku takkan bisa melepaskanmu. Namun, aku ingin kau bahagia
meskipun bukan bersamaku. Biarkan hatiku hancur karenamu, biarkan air mataku
jatuh karenamu, biarkan aku terpuruk lagi. Asal kau tidak.
Dan mungkin aku sudah gila karena
cinta. Mungkin aku terlalu mengilhaminya, dan tak sadar bahwa aku terlalu
berharap.
Aku pergi ke studio musik,
memainkan lagu yang tak pernah kumainkan di studio ini, laguku sendiri―If I Can.
If I can be a girl like her, would you like to be with me?
If I can love you more than her, would you love me?
Because I’m breaking now, just knew about you and her
()
I really will post the part eight soon, I was working a half of it! :)
Thankyou!
No comments:
Post a Comment