July 12, 2012

Seribu Pesawat Part VI

Here is the sixts part, sorry for waiting so long!

If you read it for the first time, read the complete part at here.
            
                                                                               ()

          Jarang sekali sekolah bisa sesepi siang ini. Apalagi hari Kamis, hari yang biasanya jadi hari tersibuk para murid. Mayoritas murid memilih kelas tambahan di hari kamis atau ekstrakurikuler. Namun, karena besok libur, mereka memilih untuk membebaskan diri.
            Aku hampir saja pulang jika aku tak ingat janjiku pada Dave. Datang ke studio musik. Dera tidak pulang bersamaku meski dia menginap di rumah, ibunya memintanya untuk menaiki bus dengan rute yang berbeda agar bisa berkunjung ke rumah bibinya terlebih dulu. Aku sudah di depan shelter, membuka tas untuk mengambil uang dan begitu melihat partitur aku segera memasuki gerbang sekolah lagi.
            Kuketuk pintu studio musik. “Dave?”
            Tidak ada jawaban.
            Aku memutuskan untuk duduk di depan piano, menyusun partitur. Tapi, mataku menangkat satu benda yang membuka memori lama. Gitar yang dipakai Dave saat dia bilang menurutnya aku cewek yang berbeda. Gitar listrik, warnanya putih metalik.
            Semakin lama, aku semakin berpikir tentang percaya pada cinta. Untuk kembali mengetahui arti cinta. Untuk kembali memahami. Untuk kembali mencintai.
            Adam membuka pintu, “Maaf, aku tidak mengetuk pintu. Dave mengirimiku sms tentang kau di studio musik,”
            “Dan?” lanjutku. “Dimana dia?”
            “Kau nggak tahu? Dave nggak masuk sekolah, maaf.”
            Aku sedikit terkejut, namun berhasil menyembunyikannya. Atau mungkin juga sedikit menyembunyikannya. “Dia…Kenapa nggak masuk?”
            “Kau khawatir dia nggak masuk karena sakit, ya?” Adam tertawa.
            Bukan, aku khawatir mukaku bakal merah lagi. “Memang benar?”
            “Tenang, Dave sedang di luar kota. Urusan keluarga, minggu depan juga balik.”
            “Oh, oke.” kataku. Aku tidak kecewa sama sekali. Tapi, aku merasa aneh. Seperti kau ingin seseorang ada di sampingmu.
            “Jika kau butuh teman ada aku, aku masih pulang nanti.” Katanya. “Dan, lagipula aku akan mengintrogasimu.”
            “Introgasi? Apa-apaan ini?” balasku sembari tersenyum.
            “Kau…Apa kau suka Dave?”
            Oh, tidak.
            Ditanyai apa kau suka seseorang yang mungkin kau cintai saja sudah aneh. Apalagi oleh sahabatnya sendiri.
            “Aku tidak tahu.” Jawabku akhirnya.
            “Jujur sajalah,” kata Adam. “Banyak yang naksir Dave, melihatnya dari kejauhan dan berharap dia akan menyapanya, tapi, kau? Kau dekat dengannya dan sama sekali nggak tahu apa kau menyukainya?”
            “Adam,” balasku. “Kau mirip sekali dengan Dera.”
            “Apa?”
            “Kalian sama-sama membuatku memikirkan ini terus menerus. Tapi, kau jelas tahu aku pernah terpuruk. Aku pernah menderita dalam masa-masa kelam karena cinta. Kau tahu itu.”
            “Kini saatnya kau percaya, Jane.”
            “Kau juga tahu bahwa aku telah melupakan arti cinta, aku tak lagi memahaminya.”
            “Percayalah, Jane. Ini saatnya untuk mengetahui lagi apa itu cinta dan mengerti.”
            “Aku tahu kau maupun Dera peduli tentang ini, tapi, biarkan ini berjalan sendiri. Biarkan takdir membawa keputusanku.”
            “Tapi, kau mencintainya, ‘kan?”
            Aku terdiam.
            Detik-detik berlalu terisi dengan bulir keheningan dan kesunyian. Dan ketidak-jelasan.
            “Mungkin ini memang saatnya, Adam.” Tukasku. “Ya, aku mungkin mencintainya.”
()
            Dera sedang mengacak-acak rak DVD-ku untuk mencari DVD The Amazing Spiderman yang kubeli beberapa hari lalu. Ibunya ternyata bakal menetap di luar kota selama beberapa bulan, dan ya, Dera bakal berada disini tiap dia bosan di rumah. Dan tentu saja kau pasti tahu dia akan disini terus.
            “Jadi, kau bilang ke Adam?” tanya Dera tiba-tiba.
            Aku tersentak. “Adam memberitahumu?”
            “Kenapa kau bisa langsung memberitahu Adam sedangkan aku harus menyeretmu dan mendesakmu?”
            “Tenanglah,” aku membelakangi meja, menghela napas. Namun, Dera malah tertawa terbahak-bahak.
            “Jadi, kau memang menyukainya, ‘kan?”
            “Baiklah, mungkin kau benar. Dan Adam juga benar. Harusnya aku mulai percaya pada apa yang tak pernah kupercaya lagi hanya karena terlalu curiga. Dan, baik, tentang mencintai Dave itu benar.”
            “Kau tak takut lagi, ‘kan?”
            “Pada cinta? Masih.” Jawabku.
            “Apa? Setelah semua yang kaukatakan tentang cinta dan aku yang berusaha meyakinkanmu
            “Dera,” potongku. “Ini bukan hal remeh. Dan aku bukan takut untuk mencintai, bukan lagi.”
            “Lantas apa? Apa lagi yang kau takutkan? Kau menyukai Dave, begitulah dia.”
            “Benarkah?” aku menunduk, menyembunyikan kekhawatiran di mataku.
            “Ya, Jane, tentu saja.”
            “Bagaimana kau bisa begitu yakin? Darimana kau tahu?”
            “Jane
            “Bagaimana kalau dia ternyata mempermainkan aku? Bagaimana kalau ternyata aku salah percaya pada cinta?”
            “Jane!” seru Dera. “Jangan bilang begitu. Kau pantas mendapatkan apa yang gadis lain dapatkan. Kau pantas untuk dicintai.”
            “Oleh Dave?” tanyaku. “Bagaimana kalau dia hanya menganggapku teman baiknya?”
            “Tidak, itu tidak benar. Dia menyukaimu.” Dera menggenggam erat pundakku, melihatku penuh keyakinan.
            Aku memegang tangannya, melepaskannya dari pundakku.
            “Bagaimana jika dia ternyata mencintai orang lain? Apa kau pernah memperkirakan itu?”  bisikku yang kemudian berlari ke balkon, dan mengunci pintu kacanya.
()
            Apakah yang disebut takut kehilangan dalam cinta?
            Mungkin, aku telah jatuh cinta dengan sangat cepat, kembali memahami cinta yang selama ini kuhindari, dan kini hal itu malah menjerumuskanku pada kekhawatiran terbesarku.
            I’m afraid if my heart gonna breaks again like it was.
            Jujur saja, sejak hari Kamis ketika Dave tidak masuk sekolah sampai hari Senin ini, aku benar-benar merasakan ketidak-hadiran Dave. Aku merasa seperti sebuah puzzle yang kehilangan satu kepingnya dan merasa kekurangan. Barangkali, aku merindukannya, barangkali.
            Seharusnya hari ini Dave sudah masuk, seperti kata Adam.
            Aku berjalan di koridor sekolah yang masih sepi menuju ke ruang loker. Kulepas jaketku dan memasukkannya ke loker. Satu hal yang kulupakan, sekolah kami tidak menggunakan seragam, bebas asal masih sopan.
            Dan aku selalu memakai T-shirt, kemeja atau varsity, jeans, dan sneakers. Yakin, deh, jangan mengira aku gadis yang suka memakai high-heels. Lagipula, siapa yang memakai high-heels ke sekolah?
            “Selamat pagi,”
            Aku menengok ke kananku setelah menutup pintu loker. “Hei, Chloe.”
            “Kau biasa datang pagi?” tanyanya.
            “Ya. Aku jarang melihatmu sepagi ini, latihan choir?”
            “Err…Ya, jam delapan kami berangkat ke balai kota. Lomba antar sekolah, doakan kami, ya.”
            “Semoga berhasil,” kataku.
            Chloe melirik arlojinya kemudian menatapku, “Sampai jumpa,”
            “Sampai jumpa.”
            Chloe McCartney. Salah satu gadis paling populer karena bakat seni dan olahraganya. Aku kenal Chloe sejak resital piano di luar kota saat umurku masih sebelas tahun. Chloe hebat di dua bidang, menyanyi dan renang. Dia jelas-jelas gadis yang bakal jadi pujaan cowok-cowok. AKu sudah mendengar puluhan cowok yang mencoba mendekatinya tapi dalam urusan cinta, Chloe memang sangat tertutup.
            Aku sedang menyusun buku untuk kubawa ketika seorang cowok bertanya, “Butuh bantuan?”
            Aku melirik, “Dave?”
            “Hei, J.” katanya. “Maaf tentang studio musik itu. Kau bisa kesana siang ini?”
            Aku tersenyum, senang dia kembali. “Tentu saja, tapi, kau ke kelasku karena aku harus mendata beberapa hal di kelas sepulang sekolah.”
            “Baik, Bos.” Balasnya sambil tertawa.
            “Hei, kau bisa membantuku membawa buku-buku ini ke kelas?” tanyaku.
            Dave menggangguk, “Semuanya, ‘kan?”
            “Oh, tidak, tidak. Aku bisa membawa setengahnya.”
            “Kau serius membawa buku sebanyak ini? Sudahlah, jalan di depanku. AKu yang akan membawa semuanya.”
            “Dan kau kira aku yakin kau serius akan membawanya?”
            “Kau berani apa jika aku serius?” tanyanya sembari menyeringai.
            Aku tertawa pelan kemudian berjalan lambat ke arah pintu sedangkan Dave menyusun buku di genggaman.
            Jika saja kau tahu, Dave, jika saja kau tahu.
            Apakah kau memiliki rasa yang sama denganku?
            Apa kau tidak mencintai gadis lain?
            Seperti Chloe mungkin?
()
            “…Jadi, kalau kau nggak melakukan apa-apa di sana mengapa kau tidak pulang duluan saja?”
            “Tentu saja ibuku menahanku.” jawab Dave. “Kau merindukanku?”
            Aku yakin mukaku terlalu merah untuk disamakan dengan tomat.
            “Aha, Nona Muka Merah…”
            “Untuk apa merindukan anak aneh sepertimu?” kataku.
            “Ya, ya, aku cukup yakin tak ada yang merindukanku,”
            “Ada,” aku tak sengaja bicara dan hampir melanjutkan dengan kata ‘aku’ saking melamunnya.
            “Siapa? Kalau bukan kau, siapa?” tanya Dave memberi tatapan bingung yang bakal kau tertawai jika kau melihatnya.
            “Errr…Adam,” putusku. “Dia sangat merindukanmu,”
            Dave menatap mataku. “Kurasa sekarang kau yang jadi anak aneh.”
            “Tidak, terima kasih.” jawabku segera.
            Dave membuka pintu studio musik, lalu meletakkan tasnya di lantai berlapis karpet biru langit. Ia mendorong kursi ke sebelah piano dan mengambil gitar.
            “Oh, ya, kau kenal Anneleise?” tanyaku sembari mengeluarkan map partitur dari tas.
            “Yang mana?”
            “Dia anak kelasku, rambutnya sebahu, matanya cokelat. Tinggi.”
            “Lebih tinggi dia daripadamu?”
            “Tinggi aku, sih.” jawabku.
            “Jadi, dia kenapa?” tanya Dave yang sedang memetik senar gitar memainkan nada-nada.
            “Setiap kau ke kelasku dia langsung merona, berbisik-bisik tentang kau, dia mengagumimu.” Kataku. Percaya padaku, sesungguhnya aku berat bicara tentang gadis lain pada Dave. Apalagi, gadis yang juga menyukai Dave.
            “Lalu?”
            “Kau nggak suka padanya?”
            Dave tertawa. “Aku tidak suka cewek seperti Anneleise. Dia seperti cewek lain yang akan malu jika kusapa, dan dia terlalu memerhatikan cowok yang disukainya.”
            “Dan mungkin aku juga seperti Anneliese,” sergahku.
            “Bukan, aku sudah pernah bilang kau berbeda. Dan itulah kau. Kau cewek yang cuek, dan bisa berbaur. Dan lagipula aku lebih suka berteman dengan cewek aneh sepertimu.”
            “Jadi kau suka cewek seperti siapa kalau begitu?”
            Topik salah. Topik sensitive. Kau bodoh sekali menanyakan itu, Janette, rutukku.
            “Yang berbeda dan cuek.” Katanya singkat.
`           Aku menggangguk lalu membuka partitur sebuah lagu karena Dave jelas-jelas melihatku. Aku memainkan intronya, A Year Without Rain.
            “Dan suka musik.” Dave mengetuk-ngetuk gitar sedangkan aku masih memainkan intro lagu tadi.
            “Seperti kau.” Kata Dave.
            Dan itu menghentikan permainan pianoku. Membekukan keadaan. Sayangnya waktu tak terbekukan. Dan aku sungguh-sunggu dilemma antara senang atau takut. Aku berharap Dave juga mencintaiku dan dia menyebutkan seperti apa cewek yang dia sukai, dan…
            ‘Seperti kau.’
            Apa maksudnya?
            Dengan takut, terbesit pertanyaan dalam otakku, ‘Apa dia memiliki perasaan yang sama padaku?’
()




Yeah, so please comment at my Twitter or at the comment box!
I'll happily reply all of them, and please read the other post of my blog!
Don't forget to read my post about bullying here if you care about bullying!
Thankyou xx

No comments:

Post a Comment