If you read it for the first time, read the complete part at here.
()
Jarang sekali sekolah bisa sesepi siang ini. Apalagi hari
Kamis, hari yang biasanya jadi hari tersibuk para murid. Mayoritas murid
memilih kelas tambahan di hari kamis atau ekstrakurikuler. Namun, karena besok
libur, mereka memilih untuk membebaskan diri.
Aku
hampir saja pulang jika aku tak ingat janjiku pada Dave. Datang ke studio
musik. Dera tidak pulang bersamaku meski dia menginap di rumah, ibunya
memintanya untuk menaiki bus dengan rute yang berbeda agar bisa berkunjung ke
rumah bibinya terlebih dulu. Aku sudah di depan shelter, membuka tas untuk mengambil uang dan begitu melihat partitur
aku segera memasuki gerbang sekolah lagi.
Kuketuk
pintu studio musik. “Dave?”
Tidak ada
jawaban.
Aku
memutuskan untuk duduk di depan piano, menyusun partitur. Tapi, mataku
menangkat satu benda yang membuka memori lama. Gitar yang dipakai Dave saat dia
bilang menurutnya aku cewek yang berbeda. Gitar listrik, warnanya putih
metalik.
Semakin
lama, aku semakin berpikir tentang percaya pada cinta. Untuk kembali mengetahui
arti cinta. Untuk kembali memahami. Untuk kembali mencintai.
Adam
membuka pintu, “Maaf, aku tidak mengetuk pintu. Dave mengirimiku sms tentang
kau di studio musik,”
“Dan?”
lanjutku. “Dimana dia?”
“Kau
nggak tahu? Dave nggak masuk sekolah, maaf.”
Aku
sedikit terkejut, namun berhasil menyembunyikannya. Atau mungkin juga sedikit menyembunyikannya. “Dia…Kenapa
nggak masuk?”
“Kau
khawatir dia nggak masuk karena sakit, ya?” Adam tertawa.
Bukan,
aku khawatir mukaku bakal merah lagi. “Memang benar?”
“Tenang,
Dave sedang di luar kota. Urusan keluarga, minggu depan juga balik.”
“Oh, oke.”
kataku. Aku tidak kecewa sama sekali. Tapi, aku merasa aneh. Seperti kau ingin
seseorang ada di sampingmu.
“Jika kau
butuh teman ada aku, aku masih pulang nanti.” Katanya. “Dan, lagipula aku akan
mengintrogasimu.”
“Introgasi?
Apa-apaan ini?” balasku sembari tersenyum.
“Kau…Apa
kau suka Dave?”
Oh,
tidak.
Ditanyai
apa kau suka seseorang yang mungkin
kau cintai saja sudah aneh. Apalagi oleh sahabatnya sendiri.
“Aku
tidak tahu.” Jawabku akhirnya.
“Jujur
sajalah,” kata Adam. “Banyak yang naksir Dave, melihatnya dari kejauhan dan
berharap dia akan menyapanya, tapi, kau? Kau dekat dengannya dan sama sekali
nggak tahu apa kau menyukainya?”
“Adam,”
balasku. “Kau mirip sekali dengan Dera.”
“Apa?”
“Kalian
sama-sama membuatku memikirkan ini terus menerus. Tapi, kau jelas tahu aku
pernah terpuruk. Aku pernah menderita dalam masa-masa kelam karena cinta. Kau
tahu itu.”
“Kini
saatnya kau percaya, Jane.”
“Kau juga
tahu bahwa aku telah melupakan arti cinta, aku tak lagi memahaminya.”
“Percayalah,
Jane. Ini saatnya untuk mengetahui lagi apa itu cinta dan mengerti.”
“Aku tahu
kau maupun Dera peduli tentang ini, tapi, biarkan ini berjalan sendiri. Biarkan
takdir membawa keputusanku.”
“Tapi,
kau mencintainya, ‘kan?”
Aku
terdiam.
Detik-detik
berlalu terisi dengan bulir keheningan dan kesunyian. Dan ketidak-jelasan.
“Mungkin
ini memang saatnya, Adam.” Tukasku. “Ya, aku mungkin mencintainya.”
()
Dera
sedang mengacak-acak rak DVD-ku untuk mencari DVD The Amazing Spiderman yang
kubeli beberapa hari lalu. Ibunya ternyata bakal menetap di luar kota selama
beberapa bulan, dan ya, Dera bakal berada disini tiap dia bosan di rumah. Dan
tentu saja kau pasti tahu dia akan disini terus.
“Jadi,
kau bilang ke Adam?” tanya Dera tiba-tiba.
Aku
tersentak. “Adam memberitahumu?”
“Kenapa
kau bisa langsung memberitahu Adam sedangkan aku harus menyeretmu dan
mendesakmu?”
“Tenanglah,”
aku membelakangi meja, menghela napas. Namun, Dera malah tertawa
terbahak-bahak.
“Jadi,
kau memang menyukainya, ‘kan?”
“Baiklah,
mungkin kau benar. Dan Adam juga benar. Harusnya aku mulai percaya pada apa
yang tak pernah kupercaya lagi hanya karena terlalu curiga. Dan, baik, tentang mencintai
Dave itu benar.”
“Kau tak
takut lagi, ‘kan?”
“Pada
cinta? Masih.” Jawabku.
“Apa?
Setelah semua yang kaukatakan tentang cinta dan aku yang berusaha meyakinkanmu―”
“Dera,” potongku.
“Ini bukan hal remeh. Dan aku bukan takut untuk mencintai, bukan lagi.”
“Lantas
apa? Apa lagi yang kau takutkan? Kau menyukai Dave, begitulah dia.”
“Benarkah?”
aku menunduk, menyembunyikan kekhawatiran di mataku.
“Ya,
Jane, tentu saja.”
“Bagaimana
kau bisa begitu yakin? Darimana kau tahu?”
“Jane―”
“Bagaimana
kalau dia ternyata mempermainkan aku? Bagaimana kalau ternyata aku salah
percaya pada cinta?”
“Jane!”
seru Dera. “Jangan bilang begitu. Kau pantas mendapatkan apa yang gadis lain
dapatkan. Kau pantas untuk dicintai.”
“Oleh
Dave?” tanyaku. “Bagaimana kalau dia hanya menganggapku teman baiknya?”
“Tidak,
itu tidak benar. Dia menyukaimu.” Dera menggenggam erat pundakku, melihatku
penuh keyakinan.
Aku
memegang tangannya, melepaskannya dari pundakku.
“Bagaimana
jika dia ternyata mencintai orang lain? Apa kau pernah memperkirakan itu?” bisikku yang kemudian berlari ke balkon, dan mengunci
pintu kacanya.
()
Apakah yang disebut takut kehilangan
dalam cinta?
Mungkin,
aku telah jatuh cinta dengan sangat cepat, kembali memahami cinta yang selama
ini kuhindari, dan kini hal itu malah menjerumuskanku pada kekhawatiran
terbesarku.
I’m afraid if my heart gonna breaks again
like it was.
Jujur
saja, sejak hari Kamis ketika Dave tidak masuk sekolah sampai hari Senin ini,
aku benar-benar merasakan ketidak-hadiran Dave. Aku merasa seperti sebuah puzzle yang kehilangan satu kepingnya
dan merasa kekurangan. Barangkali, aku merindukannya, barangkali.
Seharusnya
hari ini Dave sudah masuk, seperti kata Adam.
Aku
berjalan di koridor sekolah yang masih sepi menuju ke ruang loker. Kulepas
jaketku dan memasukkannya ke loker. Satu hal yang kulupakan, sekolah kami tidak
menggunakan seragam, bebas asal masih sopan.
Dan aku
selalu memakai T-shirt, kemeja atau varsity, jeans, dan sneakers. Yakin, deh,
jangan mengira aku gadis yang suka memakai high-heels. Lagipula, siapa yang
memakai high-heels ke sekolah?
“Selamat
pagi,”
Aku
menengok ke kananku setelah menutup pintu loker. “Hei, Chloe.”
“Kau
biasa datang pagi?” tanyanya.
“Ya. Aku
jarang melihatmu sepagi ini, latihan choir?”
“Err…Ya,
jam delapan kami berangkat ke balai kota. Lomba antar sekolah, doakan kami, ya.”
“Semoga
berhasil,” kataku.
Chloe
melirik arlojinya kemudian menatapku, “Sampai jumpa,”
“Sampai
jumpa.”
Chloe
McCartney. Salah satu gadis paling populer karena bakat seni dan olahraganya.
Aku kenal Chloe sejak resital piano di luar kota saat umurku masih sebelas
tahun. Chloe hebat di dua bidang, menyanyi dan renang. Dia jelas-jelas gadis
yang bakal jadi pujaan cowok-cowok. AKu sudah mendengar puluhan cowok yang
mencoba mendekatinya tapi dalam urusan cinta, Chloe memang sangat tertutup.
Aku
sedang menyusun buku untuk kubawa ketika seorang cowok bertanya, “Butuh
bantuan?”
Aku
melirik, “Dave?”
“Hei, J.”
katanya. “Maaf tentang studio musik itu. Kau bisa kesana siang ini?”
Aku
tersenyum, senang dia kembali. “Tentu saja, tapi, kau ke kelasku karena aku
harus mendata beberapa hal di kelas sepulang sekolah.”
“Baik,
Bos.” Balasnya sambil tertawa.
“Hei, kau
bisa membantuku membawa buku-buku ini ke kelas?” tanyaku.
Dave
menggangguk, “Semuanya, ‘kan?”
“Oh,
tidak, tidak. Aku bisa membawa setengahnya.”
“Kau
serius membawa buku sebanyak ini? Sudahlah, jalan di depanku. AKu yang akan
membawa semuanya.”
“Dan kau
kira aku yakin kau serius akan membawanya?”
“Kau
berani apa jika aku serius?” tanyanya sembari menyeringai.
Aku
tertawa pelan kemudian berjalan lambat ke arah pintu sedangkan Dave menyusun
buku di genggaman.
Jika saja kau tahu, Dave, jika saja kau
tahu.
Apakah
kau memiliki rasa yang sama denganku?
Apa
kau tidak mencintai gadis lain?
Seperti
Chloe mungkin?
()
“…Jadi,
kalau kau nggak melakukan apa-apa di sana mengapa kau tidak pulang duluan saja?”
“Tentu
saja ibuku menahanku.” jawab Dave. “Kau merindukanku?”
Aku yakin
mukaku terlalu merah untuk disamakan dengan tomat.
“Aha,
Nona Muka Merah…”
“Untuk
apa merindukan anak aneh sepertimu?” kataku.
“Ya, ya,
aku cukup yakin tak ada yang merindukanku,”
“Ada,”
aku tak sengaja bicara dan hampir melanjutkan dengan kata ‘aku’ saking
melamunnya.
“Siapa?
Kalau bukan kau, siapa?” tanya Dave memberi tatapan bingung yang bakal kau
tertawai jika kau melihatnya.
“Errr…Adam,”
putusku. “Dia sangat merindukanmu,”
Dave
menatap mataku. “Kurasa sekarang kau yang jadi anak aneh.”
“Tidak,
terima kasih.” jawabku segera.
Dave
membuka pintu studio musik, lalu meletakkan tasnya di lantai berlapis karpet
biru langit. Ia mendorong kursi ke sebelah piano dan mengambil gitar.
“Oh, ya,
kau kenal Anneleise?” tanyaku sembari mengeluarkan map partitur dari tas.
“Yang
mana?”
“Dia anak
kelasku, rambutnya sebahu, matanya cokelat. Tinggi.”
“Lebih
tinggi dia daripadamu?”
“Tinggi
aku, sih.” jawabku.
“Jadi,
dia kenapa?” tanya Dave yang sedang memetik senar gitar memainkan nada-nada.
“Setiap
kau ke kelasku dia langsung merona, berbisik-bisik tentang kau, dia
mengagumimu.” Kataku. Percaya padaku, sesungguhnya aku berat bicara tentang
gadis lain pada Dave. Apalagi, gadis yang juga menyukai Dave.
“Lalu?”
“Kau
nggak suka padanya?”
Dave
tertawa. “Aku tidak suka cewek seperti Anneleise. Dia seperti cewek lain yang
akan malu jika kusapa, dan dia terlalu memerhatikan cowok yang disukainya.”
“Dan mungkin
aku juga seperti Anneliese,” sergahku.
“Bukan,
aku sudah pernah bilang kau berbeda. Dan itulah kau. Kau cewek yang cuek, dan
bisa berbaur. Dan lagipula aku lebih suka berteman dengan cewek aneh sepertimu.”
“Jadi kau
suka cewek seperti siapa kalau begitu?”
Topik
salah. Topik sensitive. Kau bodoh sekali menanyakan itu, Janette, rutukku.
“Yang
berbeda dan cuek.” Katanya singkat.
` Aku
menggangguk lalu membuka partitur sebuah lagu karena Dave jelas-jelas
melihatku. Aku memainkan intronya, A Year Without Rain.
“Dan suka
musik.” Dave mengetuk-ngetuk gitar sedangkan aku masih memainkan intro lagu
tadi.
“Seperti
kau.” Kata Dave.
Dan itu
menghentikan permainan pianoku. Membekukan keadaan. Sayangnya waktu tak
terbekukan. Dan aku sungguh-sunggu dilemma antara senang atau takut. Aku
berharap Dave juga mencintaiku dan dia menyebutkan seperti apa cewek yang dia
sukai, dan…
‘Seperti
kau.’
Apa
maksudnya?
Dengan
takut, terbesit pertanyaan dalam otakku, ‘Apa dia memiliki perasaan yang sama
padaku?’
()
Yeah, so please comment at my Twitter or at the comment box!
I'll happily reply all of them, and please read the other post of my blog!
Don't forget to read my post about bullying here if you care about bullying!
Thankyou xx
Yeah, so please comment at my Twitter or at the comment box!
I'll happily reply all of them, and please read the other post of my blog!
Don't forget to read my post about bullying here if you care about bullying!
Thankyou xx
No comments:
Post a Comment